Indonesia vs Libya
Laga Kedua Lawan Libya, Jangan Terlalu Eksperimental Lagi, STY!
Termasuk yang dialamatkan kepada pemain pendatang baru di Skuat Merah-Putih, Justin Hubner.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Mengacu pada regulasi FIFA, kemenangan Indonesia bernilai +2,93 sedangkan kekalahan -2,07. Ada pun hasil imbang membuat poin Indonesia bertambah 0,43.
Apakah STY akan kembali bereskperimen? Barangkali begitu, walau tidak akan seekstrem sebelumnya. Apalagi, ia telah memastikan daftar pendek pemain Indonesia ke Piala Asia.
Dari 28 pemain yang dibawa ke Turki, STY mencoret Adam Alis dan Arkhan Fikri.
Jadi pikiran-pikiran out of the box kemungkinan [untuk sementara] akan teredam. Walau, sekali lagi, tak hilang sama sekali.
Pada laga pertama ada empat pemain yang tidak merumput (plus dua kiper).
Keempatnya pemain belakang; Asnawi Mangkualam, Elkan Baggott, Sandy Walsh, dan Shayne Pattinama.
Apakah mereka akan sekaligus diturunkan? Bisa jadi kalau STY mengusung formasi 4-2-3-1.
Formasi empat bek sejajar yang dibantu dua gelandang bertahan ini sebenarnya juga agak jarang diturunkan STY.
Biasanya, ia meletakkan kombinasi dua gelandang bertahan dalam skema 3-5-2 atau 3-4-1-2.
Dalam 4-2-3-1, Asnawi berpotensi menempati posisi bek kanan, Elkan di jantung pertahanan, berduet dengan Hubner, atau Jordi Amat, atau Riski Ridho.
Dalam wawancara usai mencatatkan caps pertama, Hubner mengatakan ia ingin berduet dengan Baggott karena merasa lebih punya chemistry.
Mereka sama-sama datang dari Liga Inggris dan juga pernah diplot berduet untuk Tim Nasional U-20 Indonesia yang batal tampil lantaran silang sengkarut politik itu.
Pattynama, jika sudah kembali dari Belanda (menjenguk ibunya yang sakit), berpeluang mengisi sektor pertahanan kiri.
Indonesia butuh kestabilan dan keberimbangan dalam bertahan dan menyerang.
Bagaimana dengan Walsh? STY berpeluang kembali menjadikannya gelandang bertahan, bisa berduet dengan Klok, atau menopang Jenner.
Dalam kombinasi ini, Jenner tidak murni bermain sebagai gelandang bertahan.
Menarik untuk menunggu siapa pemain yang ditempatkan STY di lini serang.
Marselino, seperti juga Jenner, belum kembali ke sentuhan terbaik mereka. Lama absen akibat cedera, nyata terlihat keduanya masih belum lepas.
Namun rasa-rasanya satu tempat di jantung lapangan akan jadi milik Marselino.
Agar efektif, di kiri dan di kanannya mesti ada pemain cepat dan agresif, dan STY punya banyak pilihan. Ada Saddil, Struick, Witan Sulaiman dan Egy Maulana Fikri.
Di laga pertama, Witan dan Egy ditempatkan berbarengan di sisi kanan lapangan.
Witan sebagai bek dan persis Egy di depannya.
STY barangkali hendak mencoba kombinasi yang lebih menyerang, terutama pada momentum di mana Indonesia sedang membutuhkan gol.
Hasilnya terlihat jelas. Duet ini memang bagus dalam menyerang tapi amburadul kala bertahan, dan eksperimen ini hampir pasti tidak akan diulang STY.
Di lini depan, empat pilihan sama sulitnya. Dalam hal ini, sulit lantaran siapa pun yang dipilih memang –setidaknya sampai sejauh ini– belum ada yang betul-betul melegakan.
Belum ada yang benar-benar tajam. Rata-rata air saja.
(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pelatih-Tim-Nasional-Indonesia-Shin-Tae.jpg)