Setelah Kekalahan Indonesia atas Jepang

Investasi Butuh Kesabaran, Bukan Simsalabim

Investasi membidik kesuksesan jangka panjang, dan oleh karenanya dibutuhkan keberanian dan kesabaran

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUNNEWS
Laga Timnas Indonesia Vs Timnas Jepang dalam laga Grup C Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2024). 

Durasi kontraknya empat tahun. Aguero datang pada 28 Juli 2011 dan Fernandinho 6 Juni 2013.

Tiga nama lain yang disebut Mourinho, berbarengan tiba di tahun 2015. Sterling pada 14 Juli, Otamendi 20 Agustus, dan de Bruyne 30 Agustus. 

Pemain-pemain ini, memang, tidak ada yang dikontrak di bawah empat tahun. Istilah Mourinho, investment from the past.

Begitulah, ingatan atas “kuliah” Hermawan Kartajaya dan omelan Mourinho ini melesat-lesat lagi tatkala media sosial dipenuhi komentar-komentar bernada kecewa usai Tim Nasional Indonesia kalah 0-4 dari Jepang di laga matchday lima babak kualifikasi tiga Piala Dunia 2026 di Jakarta, Jumat malam, 15 November 2024.

Tentu saja, kekecewaan yang membuncah ini lumrah belaka.

Alamiah, sebab memang demikianlah hakekatnya. Kalah kecewa menang bahagia.

Namun, kecewa, lalu menyumpah-serapah, mengutuk, sembari mendakwa sepak bola nasional melangkah ke arah yang salah dan mendesak PSSI segera berbelok, jelas bukan sikap dan pemikiran yang dapat dibenarkan.

Timnas Indonesia Vs Jepang dalam laga Grup C Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2024)
Timnas Indonesia Vs Jepang dalam laga Grup C Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2024) (TRIBUNNEWS)

Dua dekade lalu, muncul istilah ‘kecepatan adalah jantung dunia masa kini’. Industrialisasi dan perkembangan teknologi mengonstruksi pikiran dan memaksa tiap orang untuk lari terbirit-birit.

Harus lugas dan liat agar dapat memenangkan persaingan.

Pendek kata, apa yang lebih cepat, itu lebih baik. Seperti sulap.

Simsalabim abrakadabra; kertas seketika jadi bunga, bunga jadi sapu tangan, sapu tangan jadi tongkat, dan kelinci hilang di dalam topi, berganti puluhan kartu yang melesat-lesat ke udara.

Namun seperti sulap, yang cepat, yang sekonyong-konyong berubah, tak jarang sekadar faramorgana. Tampak nyata padahal cuma bayang-bayang.

Kuantitas, kebaruan, ketenaran hanya semu.

Maka memang tidak ada kecepatan termaktub dalam sembilan elemen marketing. Tidak menjadi tolok ukur dalam keberhasilan dan kesuksesan investasi.

Walau tidak persis sama, rasa-rasanya, pembangunan ulang Manchester City [terutama oleh] Sheikh Mansour dapat dipadankan dengan apa yang dilakukan PSSI di bawah Erick Thohir terhadap sepak bola Indonesia sekarang.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved