Setelah Kekalahan Indonesia atas Jepang

Investasi Butuh Kesabaran, Bukan Simsalabim

Investasi membidik kesuksesan jangka panjang, dan oleh karenanya dibutuhkan keberanian dan kesabaran

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUNNEWS
Laga Timnas Indonesia Vs Timnas Jepang dalam laga Grup C Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2024). 

Investasi sedang ditanamkan, termasuk di tim nasional dalam bentuk, antara lain, naturalisasi.

Kita tidak usah lagi memperpanjang-panjang pembahasan naturalisasi.

Kenapa harus naturalisasi? Kenapa bukan pembibitan? Kenapa tidak konsentrasi membenahi liga domestik saja?

Apakah Indonesia yang penduduknya nomor empat terbanyak di kolong jagat memang sangat sulit untuk mendapatkan bakat-bakat pesepak bola? Kenapa begini? Kenapa begitu?

Ini ibarat mana lebih dulu ada antara telur dan ayam.

Memilih “jalur lambat” dengan resiko kegagalan, atau sebaliknya –dengan resiko serupa– melakukan percepatan, menyuntikkan investasi-investasi dan langkah extra-ordinary.

PSSI, termasuk lewat Erick Thohir, sudah berulangkali memberikan penjelasan perihal ‘kenapa-kenapa’ tadi, dan kiranya, sepakat tak sepakat, tidak usah lagi didebat.

Hal yang lebih penting untuk dicermati adalah perkembangan investasi ini.

Sudah sampai sejauh mana? Seperti apa grafiknya? Secara kasat mata, kita bisa bilang tidak buruk.

Meski fluktuatif, progresnya positif. Satu bukti yang sahih (dan sulit dibantah) adalah keberadaan Tim Nasional Indonesia di babak ketiga kualifikasi Piala Dunia.

Tergabung di Grup C, Pasukan Garuda yang memulai perjalanan dari fase paling awal, berkompetisi dengan empat negara yang pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.

Jepang tujuh kali lolos, Australia dan Saudi Arabia masing-masing enam kali, dan China satu kali.

Satu kontestan lain, Bahrain, dua kali sampai pada fase terakhir kualifikasi. Tahun 2006 kalah dalam playoff melawan Trinidad-Tobago. Empat tahun kemudian, mereka gagal pula melewati Selandia Baru. 

Dengan kata lain, Indonesia, yang boleh pula diibaratkan sebagai bayi yang belum lama belajar berjalan, berada satu lintasan dengan para pelari cepat dan berpengalaman pula.

Mereka sudah lebih lama mengenal lintasan hingga paham seperti apa karakternya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved