Setelah Kekalahan Indonesia atas Jepang
Investasi Butuh Kesabaran, Bukan Simsalabim
Investasi membidik kesuksesan jangka panjang, dan oleh karenanya dibutuhkan keberanian dan kesabaran
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Paham bagaimana memanfaatkan faktor-faktor eksternal, mengubah yang kelihatan menyulitkan dan merugikan jadi menguntungkan.
Lalu sampai di sini mungkin akan muncul pertanyaan.
Jika tak mungkin menang untuk apa berkompetisi? Pertanyaan bertendensi pesimistis begini dapat direspons dengan dua pilihan jawaban: optimistis yang mengarah kepada guyon, atau realistis.
Jawaban pertama, ikut saja, siapa tahu turun keajaiban, atau bahkan mukjizat.
Betul, sejauh ini, mukjizat memang hanya menjadi milik para nabi dan rasul, tapi keajaiban –dengan syarat tertentu– kadang-kadang muncul juga.
Siapa menyangka Deportivo La Coruna menjadi kampiun Liga Spanyol. Siapa memperkirakan Montpellier memuncaki Liga Perancis dan Leicester City mengangkangi klub-klub besar dan kaya-raya untuk menjuarai Liga Inggris.
Siapa pernah menduga Yunani bakal mengangkat tropi Piala Eropa. Siapa tahu keajaiban juga akan merangkul Indonesia.
Lantas jawaban realistisnya bagaimana? Kembali pada investasi tadi. Lakukan dengan sabar, konsisten, tidak grasak-grusuk.
Cermati progres dan percaya bahwa kesuksesan ada di depan. Jangan berharap terlalu banyak pada pohon yang baru ditanam. Pohon ini belum akan berbuah.
Kita dan Jepang sesungguhnya pernah berada dalam posisi yang sama.
Bahkan boleh dibilang lebih bikin gregetan.
Jepang tinggal dua langkah dari Piala Dunia 1986, dan kembali gagal di dua piala berikutnya.
Padahal tahun 1994, dengan investasi besar-besaran yang dilakukan sejak empat tahun sebelumnya mereka berstatus sebagai juara Asia.
Atas kegagalan-kegagalan ini Jepang tak lantas menyerah.
Pohon yang sudah ditanam terus dirawat, terus dipupuk, supaya akarnya lebih bagus, batang dan dahan dan rantingnya lebih kuat, dan daun-daunnya lebih hijau dan rindang hingga menghasilkan buah berkualitas.
Mereka akhirnya lolos ke Piala Dunia 1998 dan tak pernah gagal lagi sampai sekarang.
Contoh lain? Usain Bolt datang sebagai pemuda “culun” di Olimpade Athena 2004.
Dia terhenti di fase penyisihan nomor 200 meter, tercecer di posisi lima pada heat 4.
Namun sebagaimana Jepang, Bolt tidak berhenti, terus berproses, bersabar, bersetia, dan kita tahu apa yang terjadi di lintasan Olimpiade sampai 12 tahun berikutnya: pemuda culun itu telah menjelma legenda terbesar, pelari terhebat sepanjang masa.
(t agus khaidir)
| Geger Aplikasi Presensi di ASN Pemkab, Bayar Rp250 Ribu untuk Setahun Bebas Tak Masuk Kerja |
|
|---|
| PERMINTAAN Terakhir Mia Citra, Dirawat Usai Tabrakan Kereta Bekasi Kini Meninggal, Disuapi Ibu |
|
|---|
| Pengusaha Warkop Agam di Medan Diduga Selingkuh dan KDRT, Ica: Saya Sudah Visum |
|
|---|
| Nasib Brigadir YM Polwan di NTT Dipecat Usai Mencuri Uang Rp1,1 Juta di Salon |
|
|---|
| 30 Ucapan Hari Buruh atau May Day 2026 dalam Bahasa Inggris dan Artinya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Laga-Timnas-Indonesia-Vs-Timnas-Jepang-dalam-laga-Gr.jpg)