Catatan Sepak Bola

Tuan Patrick yang Bikin Harap-harap Cemas

Jangan terbang terlalu tinggi, kurang lebih bermakna jangan muluk-muluk amat berharap.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
tribunnews/Irwan Rismawan
AWASI LATIHAN - Pelatih Kepala Tim Nasional Indonesia, Patrick Kluivert, mengawasi jalannya latihan skuad Indonesia di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Sabtu (22/3). Indonesia akan menghadapi Bahrain pada laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia Ronde 3 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Selasa, 25 Maret 2025. 

STY yang sudah bertahun-tahun di Indonesia masih saja hanya berkomunikasi dengan Bahasa Korea. STY tidak bisa berbahasa Indonesia dan tidak pula fasih berbahasa Inggris.

Intinya, lantaran kendala ini, menurut PSSI, pemain jadi tidak bisa maksimal menerjemahkan instruksi dan keinginan STY.

Disebut juga perihal friksi kamar ganti. STY, dengan segenap keterbatasan komunikasinya, dikabarkan bersikap otoriter pula, enggan menerima masukan hingga membuat sejumlah pemain mulai “berontak”. 

Dari luar PSSI, sejumlah pengamat sepak bola Tanah Air, menyuarakan ragam pandangan yang lebih aduhai.

Justinus Laksana menyebut STY terlalu pragmatis dan miskin taktik; mengandalkan pola defensif dan membuat permainan tidak enak ditonton.

Sepak bola adalah juga keindahan, bilangnya, dan keindahan ini hanya datang dari kesebelasan yang menyerang, seperti Manchester City, Barcelona, atau Tim Nasional Belanda.

Tommy Welly, Akmal Mahali, atau Anton Sanjoyo, lain lagi. Mereka menyoal pemain-pemain berdarah campuran yang terus dinaturalisasi (atas permintaan STY).

Mereka menyorot pembinaan pemain dan perbaikan kompetisi domestik.

Ada juga yang begitu tajam mempermasalahkan hasil Piala AFF. Kesimpulannya, kegagalan di turnamen ini jadi bukti betapa sebenarnya kapasitas STY sebagai pelatih bahkan belum sampai pada level medioker.

Kalau cuma segitu, pelatih lokal sebangsa Indra Sjafri atau Fachri Husaini juga bisa. 

Maka di mata mereka, memang paripurnalah kerusakan Tim Nasional Indonesia di tangan STY, dan sebelum lebih jauh merusak, Erick Thohir memutuskan menggantinya. 

Suporter terperangah. Harapan yang melambung menembus batas langit tadi seketika limbung terhuyung.

Sebagian besar tak percaya pada alasan yang dikemukakan Erick Thohir. Terlebih setelah beberapa hari berselang, Erick mengumumkan nama pelatih pengganti, yakni Patrick Kluivert.

Suporter makin tak habis mengerti. Sebagai pemain, Kluivert memang terbilang pemain hebat, tapi bukan yang terhebat juga.

Dia tak pernah masuk dalam jajaran pemain-pemain kaliber berat. Dia tidak berada di kelas Zinedine Zidane, misalnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved