TRIBUN WIKI
Mengenal Festival Tabuik Pariaman yang Ternyata Mengingatkan Kita pada Tragedi Karbala
Tabuik Pariaman adalah tradisi budaya yang ada di Kota Pariaman. Tradisi ini mengakar pada tragedi Karbala, saat terbunuhnya Imam Husein cucu Rasul
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
TRIBUN-MEDAN.COM- Kota Pariaman, Sumatera Barat kembali mengadakan festival budaya Tabuik Pariaman 2025.
Festival ini menghadirkan khasanah budaya di Kota Pariaman, yang berpadu dengan sejarah tragedi Karbala.
Diketahui bersama, bahwa festival Tabuik Pariaman ini sudah berlangsung turun temurun.
Di era kekinian seperti sekarang ini, festival Tabuik Pariaman menjadi destinasi wisata yang kemudian mengundang wisatawan untuk datang ke Kota Pariaman.
Baca juga: Mengenal Pistol Beretta Seperti Milik Kadis PUPR Topan Ginting, Harganya Bisa Puluhan Juta
Dalam setiap pelaksanaannya, geliat ekonomi pun bangkit.
Bukan hanya soal menjaga warisan budaya, tapi event ini juga mendongkrak perekonomian masyarakat.
Dalam acara tersebut kerap diadakan bazzar dan pameran seni.
Karenanya, ketika festival diadakan, banyak sektor yang diuntungkan.
Bukan hanya sektor kuliner, tapi juga sektor akomodasi dan transportasi.
Namun, bagaimana sejarah Tabuik Pariaman ini?
Kenapa ada hubungannya dengan peringatan tragedi Karbala?
Baca juga: Mengenal Robot Polisi yang Lagi Viral, Harga Hingga Fungsinya
Sejarah Tabuik Pariaman
Tabuik adalah sebuah tradisi dan festival budaya yang digelar setiap tahun di Kota Pariaman, Sumatera Barat, khususnya pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam.
Secara harfiah, kata "Tabuik" berasal dari bahasa Arab at-tabut yang berarti peti atau keranda.
Dalam konteks Pariaman, tabuik adalah keranda besar yang terbuat dari bambu, kayu, atau rotan, dihias dengan bunga dan ornamen warna-warni, yang melambangkan usungan jenazah Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur dalam Pertempuran Karbala di Irak.
Baca juga: Mengenal Grebeg Suro Ponorogo yang Selalu Diadakan Tiap Tahun Beserta Maknanya Bagi Masyarakat
Festival ini merupakan peringatan atas wafatnya Husein bin Ali pada hari Asyura, yang menjadi momentum penting dalam tradisi Syiah.
Namun di Pariaman, peringatan ini kemudian diadaptasi menjadi tradisi lokal yang unik dan menjadi bagian dari budaya Minangkabau yang mayoritas Sunni.
Tuo Tabuik Subarang generasi kelima, Zulbakri, dengan tegas menyatakan bahwa Tabuik adalah pengenangan atas syahidnya cucu Rasulullah SAW, Husein, pada 10 Muharam tahun 61 Hijriah, atau 10 Oktober 680 Masehi.
Ini bukan dongeng, ini sejarah. Dan sejarah Tabuik di Pariaman punya jejak yang tak kalah menarik.
Ia berawal dari kedatangan pasukan Islam Tamil asal India pada tahun 1826 di Bengkulu, di bawah kekuasaan Inggris.
Baca juga: Mengenal Pasar Pramuka Pojok yang Dikaitkan dengan Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Jadi Tempat Pemalsuan
Ketika Perjanjian London pada 17 Maret 1829 mengubah peta kekuasaan dan Belanda mengambil alih Bengkulu, pasukan ini tercerai-berai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Tabuik-Pariaman-2025-3.jpg)