Breaking News

TRIBUN WIKI

Mengenal Festival Tabuik Pariaman yang Ternyata Mengingatkan Kita pada Tragedi Karbala

Tabuik Pariaman adalah tradisi budaya yang ada di Kota Pariaman. Tradisi ini mengakar pada tragedi Karbala, saat terbunuhnya Imam Husein cucu Rasul

Tayang:
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Instagram @mediacenterkotapariaman
FESTIVAL BUDAYA- Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat saat melaksanakan kegiatan festival budaya Tabuik Pariaman. Festival ini mengakar pada peringatan sejarah tragedi Karbala, yang menewaskan Imam Husein, cucu Rasulullah. 

Sebagian dari mereka, membawa serta tradisi pengenangan Asyura, berlabuh di Pariaman. 

"Sejak itulah perayaan Tabuik hadir dan terus dipelihara hingga jadi budaya masyarakat Pariaman," terang Zulbakri, Minggu (6/7/2025) dikutip dari Tribun Padang.

Lalu, mengapa disebut "Tabuik"?

Nama ini merujuk pada sebuah momen yang mengejutkan dalam peristiwa Karbala.

Atas kebesaran Allah SWT, jenazah Husein yang ada di keranda secara ajaib diangkat ke langit menggunakan Buraq. 

Baca juga: Mengenal Batu Blue Safir yang Dipakai Maia Estianty, per Karat Harganya 3000 Dollar

Bukan sembarang makhluk, Buraq digambarkan sebagai hewan dengan tubuh kuda, kepala menyerupai manusia, dan sayap lebar, yang mengusung peti jenazah di pundaknya. 

"Buraq pembawa peti tersebutlah yang dinamakan Tabuik," tegas Zulbakri.

Seiring zaman, makna Tabuik pun berevolusi. Ia tak hanya menjadi simbol duka, tetapi juga motor penggerak pariwisata yang membangkitkan denyut nadi ekonomi lokal. 

Tabuik pariaman 2025
FESTIVAL BUDAYA- Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat saat melaksanakan kegiatan festival budaya Tabuik Pariaman. Festival ini mengakar pada peringatan sejarah tragedi Karbala, yang menewaskan Imam Husein, cucu Rasulullah.

Festival Tabuik biasanya berlangsung selama sekitar 10 hari, dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut:

  1. : Prosesi pengambilan tanah sebagai simbol bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

  2. : Keranda besar dihias dan dibuat secara gotong royong oleh masyarakat.

  3. : Ritual berduka dan mengenang wafatnya Husein bin Ali.

  4. : Tabuik diarak keliling kota, diiringi musik dan tarian tradisional.

  5. : Puncak acara berupa pelepasan tabuik ke laut, yang melambangkan pengembalian jenazah Husein dan sekaligus sebagai simbol pelepasan duka.

Tragedi Karbala

Tragedi Karbala adalah peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal 10 Muharram 61 Hijriah (10 Oktober 680 M) di Karbala, Irak, yang melibatkan pertempuran antara Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan pengikutnya, melawan pasukan Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua dari Dinasti Umayyah.

Setelah wafatnya Muawiyah pada tahun 60 H (679 M), anaknya Yazid diangkat menjadi khalifah.

Imam Husain menolak untuk memberikan baiat kepada Yazid karena menganggap pemerintahannya tidak sah dan berbahaya bagi ajaran Islam.

Baca juga: Mengenal Virus Hanta, Asal Usul, Gejala dan Cara Pencegahannya

Husain menganggap Yazid telah merusak prinsip-prinsip Islam dan menolak tunduk pada kekuasaan yang tidak adil.

Imam Husain meninggalkan Madinah menuju Mekah untuk menghindari tekanan agar bersumpah setia kepada Yazid.

Kemudian ia menerima undangan dari penduduk Kufah yang berjanji mendukungnya melawan Yazid.

Namun, saat rombongan Husain menuju Kufah, pasukan Yazid berhasil menguasai wilayah tersebut dan membungkam pendukung Husain.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved