Takjub Penggunaan Aksara Arab dan Mandarin di Tiongkok
Fakta ini membantah opini yang selama ini menyatakan bahwa Muslim di Uighur termarginalkan
Dari Singapura menuju Bejing ada seorang yang sama sekali tak saya kenal meminta saya meletakkan tas yang saya bawa di atas kopernya agar saya tidak susah melewati lorong yang sempit dalam pesawat dengan menjinjing tas.
Begitu juga mereka selalu menunjukkan jalan saat saya dan suami mencari toilet di Danau Karakul daerah Kashgar. Termasuk, saat kami bersama rombongn berjalan atau menaiki tangga, mereka dengan sigap membawa suami dan saya lewat lift karena melihat suami saya agak susah melewati tangga.
Menghormati orangtua adalah catatan berikutnya. Di tempat-tempat umum yang didatangi, saya menyaksikan banyak orangtua yang tak mampu berjalan disorong anak atau cucunya dengan menggunakan kursi roda.
Selanjutnya, melestarikan budaya dan sejarah. Semua tersimpan rapi di museum. Baik budaya, benda maupun tak benda semua dilestarikan sehingga pengunjung serta masyarakat dapat melihat dan mengetahuinya.
Para pedagang menjajakan dagangan dengan tertib dan rapi. Tak ada kesan pembeli tak nyaman karena ditarik untuk membeli dagangan mereka. Baik pedagang yang berjualan di pinggir Danau Karakul dan Danau Baisha di Kashgar sampai kepada pedagang di toko-toko di Bejing semuanya ramah dan tidak ada yang marah meski ditawar dengan harga terendah.
Terakhir yang sangat membuat saya terkejut bukan kepalang adalah penggunaan aksara Arab Uighur mulai dari Bandara Kashgar sampai ke depan toko-toko dan kawasan perumahan.
Semuanya menggunakan dua aksara yakni aksara Arab Uighur dan aksara Mandarin. Tentu ini suatu hal yang menarik. Jika dibanding dengan Indonesia yang mayoritas Muslim, saya tidak menemukan ada penggunaan aksara Arab Melayu di Bandara.
Fakta ini membantah opini yang selama ini menyatakan bahwa Muslim di Uighur termarginalkan. Sebagai latar belakang ilmu linguistik, maka ini membuat saya tertarik dan ingin mengkajinya lebih lanjut.
Semoga ada kesempatan yang diberikan kepada saya lewat Konsul Jenderal Tiongkok di Medan atau Ketua Umum INTI dr Indra Wahidin.
Terimakasih kepada seluruh bapak dan ibu rombongan ke Tiongkok. Mohon maaf atas segala kesalahan, kehilapan dan kekurangan. Semoga tidak ada perhitungan di akhirak kelak. Semoga persahabatan dan persaudaraan kita tetap berlanjut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Ketua-MUI-Sumut-dan-Istri.jpg)