Kesehatan

Super Flu, Apakah Sama dengan Influenza A? Begini Penjelasan Ahli

Super Flu merujuk pada varian Influenza A (H3N2) subclade K, mutasi terbaru yang sangat menular dengan gejala lebih berat.

Tayang:
Editor: Array A Argus
Pinterest/vipflash.de
SUPER FLU- Saat ini di Amerika Serikat tengah melonjak kasus Super Flu. Super Flu merujuk pada varian Influenza A (H3N2) subclade K, mutasi terbaru yang sangat menular dan menyebabkan lonjakan kasus flu lebih cepat serta berat dari biasanya. 
Ringkasan Berita:
  • Super Flu merebak di Amerika Serikat
  • Ketua IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa Super Flu bukan terminologi medis, melainkan istilah populer untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 yang tengah meningkat kasusnya
  • Varian ini merupakan mutasi flu musiman H3N2 yang lebih mudah menyebar, dengan gejala batuk parah, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan ekstrem, muncul 3–4 hari setelah terpapar 

 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Para ahli dunia tengah menyoroti merebaknya Super Flu di Amerika Serikat.

Super Flu merujuk pada varian Influenza A (H3N2) subclade K, mutasi terbaru yang sangat menular dan menyebabkan lonjakan kasus flu lebih cepat serta berat dari biasanya.

Super Flu ini pertama kali terdeteksi pada Juni 2025 di negara seperti Inggris, Jepang, dan AS.

Baca juga: Apa Itu Tactical Vest Seperti yang Dipakai Verrel Bramasta, Cek Fungsinya

Kini, penyebaran Super Flu kian mengkhawatirkan.

Apalagi sejumlah laporan menyebut bahwa anak-anak lebih cepat tertular dibanding orang dewasa.

Penjelasan Ahli

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan, Super Flu sebenarnya bukan istilah yang diakui secara ilmiah di dunia medis.

Baca juga: Apa Itu 31/ATLAS, Benda Langit yang Diyakini Astronom Harvard Sebagai Alien

ilustrasi Demam
ilustrasi Demam (shutterstock)

“Super Flu bukan merupakan terminologi medis. Istilah ini sering dipakai masyarakat untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 subklade K,” ujar Piprim, seperti dilansir dari laporan Kompas.com, Rabu (31/12/2025).

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa yang dimaksud masyarakat sebagai Super Flu sejatinya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat virus influenza, yang saat ini memang menunjukkan peningkatan kasus.

Baca juga: Apa Itu Emas Cukim? Pilihan Investasi Selain Emas Antam

“Kata-kata Super Flu itu sempat menimbulkan kepanikan, karena ini istilah yang sebetulnya tidak ada di terminologi medis ya,” ungkapnya pada media briefing virtual, Senin (29/12/2025). 

Menurutnya, influenza merupakan ISPA yang disebabkan virus influenza, mulai dari influenza A, B, hingga C, dengan influenza, termasuk H3N2, menjadi penyebab utama kasus berat.

Karakteristik

Super Flu bukan penyakit baru, melainkan cabang evolusi virus flu musiman H3N2 yang bermutasi, membuatnya lebih mudah menyebar melalui mutasi genetik yang melewati sebagian perlindungan vaksin standar, sehingga infeksi melonjak hingga 71 ribu kasus seminggu di New York.

Baca juga: Apa Itu Edena Coin dan Kegunaannya? Sudah Terdaftar di Indodax

Istilah "super" menekankan kecepatan penyebaran dan gejala intens seperti batuk parah, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, nyeri otot, sakit kepala, serta kelelahan ekstrem yang muncul 3-4 hari pasca paparan, sering disalahartikan mirip COVID-19.

Musim flu datang 4-5 minggu lebih awal, berpotensi picu "puncak kedua" awal 2026, meski mortalitas tidak ekstrem tapi berisiko komplikasi seperti serangan jantung pada lansia atau komorbid

Virus ini paling berbahaya bagi lansia, orang imunokompromais, rendah kebugaran, anak dengan diabetes/obesitas, penyakit jantung/paru kronis, gangguan metabolik, saraf, atau imunitas lemah, karena H3N2 historis picu gejala berat di kelompok ini.

Baca juga: Apa Itu Family Office, Ide Luhut Binsar Pandjaitan yang Ditolak Didanai oleh Menteri Purbaya

Di Indonesia, banjir dan bencana di Sumatera/Kalimantan Selatan bisa percepat penyebaran, terutama saat libur akhir tahun.

Sebagai upaya pencegahan, vaksin flu 2025 tetap efektif kurangi gejala berat/rawat inap meski tidak cegah infeksi total; pakai masker di ruang ramai, tes diferensial COVID-flu, dan istirahat jika sakit.

Pakar seperti Amesh Adalja (Johns Hopkins) dan Thomas Russo (Univ. Buffalo) tekankan vaksinasi prioritas, sementara Nicola Lewis (World Influenza Centre) bilang evolusi virus normal tapi waspadai lonjakan lokal.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Pengadilan Arbitrase Olahraga, Tempat Federasi Senam Israel Ajukan Gugatan

Cara Kompres Demam yang Benar
Cara Kompres Demam yang Benar (Shutterstock/Petrovich Nataliya)

Gejala Super Flu

Baik pakar di Indonesia maupun Amerika Serikat menekankan bahwa gejala super flu umumnya mirip dengan influenza A pada umumnya, namun sering kali terasa lebih berat dan muncul secara mendadak.

Menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, gejala yang kerap muncul meliputi:

- Demam tinggi

- Kelelahan berat

- Nyeri otot atau myalgia

- Menggigil

- Pilek atau hidung tersumbat

- Nyeri tenggorokan

Baca juga: Apa Itu Bakery Gluten Free yang Lagi Viral, Begini Penjelasan Dokter Soal Alergi

Sementara itu, ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, Ph.D. menjelaskan, strain H3N2 memang dikenal lebih berat, terutama pada anak-anak dan lansia.

“H3N2 umumnya dianggap lebih parah di semua kelompok usia, terutama pada lansia dan anak-anak kecil. Ketika kami melihat aktivitas H3N2 di tahap awal, ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Pekosz, disadur dari TODAY.

Ia menambahkan, gejala flu akibat mutasi H3N2 subklade K dapat terasa sangat intens. Gejalanya seolah-olah menggambarkan kelelahan ekstrem dan hal ini sering dialami pasien

“Gejalanya muncul tiba-tiba dan rasanya seperti ditabrak truk,” katanya.

Baca juga: Kandungan Etanol BBM Pertamina Jadi Sorotan, Lalu Apa Itu Etanol?

Gejala lain yang juga banyak dikeluhkan meliputi sakit kepala, batuk, hidung berair, hingga panas dingin hebat. Kondisi ini kerap membuat penderitanya tidak mampu beraktivitas selama beberapa hari.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp Respi(K), menjelaskan pentingnya edukasi kepada orang tua, terutama menjelang dan selama musim liburan, ketika mobilitas dan interaksi meningkat. 

Anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan tertular influenza, terlebih jika berada di lingkungan padat atau bepergian.

Ia mengingatkan bahwa meningkatnya kasus influenza bukanlah isu sepele. 

Penularan yang cepat, gejala yang bisa berat, serta potensi komplikasi menjadikan influenza sebagai penyakit yang harus diwaspadai bersama, tanpa perlu panik berlebihan akibat istilah yang keliru.

Edukasi yang tepat, pemahaman perbedaan antara selesma dan influenza, serta kewaspadaan terhadap gejala berat menjadi kunci agar masyarakat tidak salah langkah dalam menghadapi peningkatan kasus influenza saat ini.(tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved