Sketsa
Siapa Bilang Rakyat Tidak Pernah Bermimpi Jadi Kaya Raya
Hampir satu jam berlalu tapi Jek Buntal, Idam Marley, dan Marulam Disko belum juga mengalihkan pandangan dari telepon selular.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
"Makjang! Kok kami pulak, Tok?" sergah Idam Marley.
"Iya, lah, mana pulak ada orang main judi untuk iseng-iseng. Mo carik duit jugak pasti kelen."
"Trus, hubungannya sama pidato presiden apa?" tanya Lek Tuman seraya menggeser bentengnya ke posisi yang lebih aman.
Tok Awang menghempas napas.
"Begini, kelen tahu, kan, presiden kita ini orang senang sedari lahir. Istilah kata, pewaris dia, bukan perintis. Gak berseri duit keluarganya. Kalok mo minta apa-apa gak perlu harus guling-guling dulu di depan emak-bapaknya. Gak perlu pakek merajok-merajok. Sekolah di luar negeri, pulang-pulang masuk ABRI, trus kawin sama anak presiden. Jadi keknya memang gak pernah tau dia rasanya makan gak makan. Gak pernah susah. Gak pernah tahu dia yang namanya Porkas, yang namanya SDSB."
"Ahai, Porkas!" seru Marulam.
"Pernah kau pasang?"
"Pernah, Tok."
"Pernah tembus?"
"Pernah, lah! Yang dua angka pernah, tiga angka pernah, tapi empat angka seingatku gak pernah."
"Nah, kalok seandainya tembus yang empat angka itu, mau kau pakek untuk apa?"
"Banyak, Tok. Modal kawin pastinya. Kalok tembus lagi belik rumah, tembus lagi belik mobil."
"Naik haji nggak, Mak?" timpal Jek Buntal
"Ya, enggak, lah, Pak Jek. Cemananya? Naik haji pakek uang judi haram hukumnya itu. Nggak mabrur."
"Tapi masih belum nangkap kali aku, Tok," ucap Lek Tuman menyergah. "Maksud Atok, pasang Porkas sama dengan mimpi?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SKETSA-Siapa-Bilang-Rakyat-Tidak-Pernah-Bermimpi-Jadi-Kaya-Raya_.jpg)