Sketsa
Siapa Bilang Rakyat Tidak Pernah Bermimpi Jadi Kaya Raya
Hampir satu jam berlalu tapi Jek Buntal, Idam Marley, dan Marulam Disko belum juga mengalihkan pandangan dari telepon selular.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
"Kukira malah gak cumak mimpi, Pak Kep. Mimpi itu, kurang lebih, kan, pasrah aja. Tinggal tidur datang sendiri dia. Mengkhayal-mengkhayal, itu mimpi. Tapi kalok mau tembus Porkas, tembus SDSB, beda critanya. Lebih ke keinginan, dan ada usahanya. Hitung-hitung erek-erek. Sampek ada itu rumus-rumusnya. Ada angka pelarian segala. Belum lagi nengok-nengok kode alam. Ada kucing kawen, kode alam. Ada ular lewat, kode alam. Ada yang berserak di jalan dicatat nomor polisi keretanya. Ada orang gilak lewat pun ditanyak-tanyak. Supaya apa? Supaya tembus. Supaya bisa berduit. Supaya bisa kaya. Walopun sebenarnya gak ada yang bisa jadi kaya dari judi kecuali bandarnya."
Tok Awang menggeser gajah ke lajur kiri untuk mengancam menteri, yang segera dijawab Lek Tuman dengan tawaran pertukaran.
"Tapi, kalok aku pikir-pikir, keknya presiden kita ini memang layas kali, ya, Tok," ucap Idam Marley sekonyong-konyong menimpali percakapan.
"Layas cemana?"
"Sepele kali. Kecik semua orang di mata dia."
"Kenapa gitu, Dam?" tanya Jek Buntal dan Marulam Disko hampir bersamaan.
"Cak kelen dengar lagi, lah, pidatonya itu. Rakyat, kek kita-kita ini, lah maksudnya, kata dia mimpinya cumak bisa makan yang layak, bisa belik susu, bisa pergi sekolah. Gak boleh mimpi punya kebon sawit berhektar-hektar. Gak boleh mimpi punya tambang. Gak boleh bikin partai. Gak boleh punya duit simpanan sampek dua triliun."
Jek Buntal tertawa. "Iya, ya. Lucu jugak. Masak gak boleh kita mimpi jadi orang kaya? Jadi siapa yang boleh? Pejabat?"
"Tengok-tengok pejabatnya jugak, Pak Jek," sahut Marulam. "Kalok cumak kepling kayak Lek Tuman ini, ya, payah jugak. Dapat jatah komisi antar-antar EmBeGe udah paten kali. Itu pun diributi sama orang-orang yang gak dapat jatah."
Tawa pecah berderai. Lek Tuman tersenyum masam. Posisi raja yang makin terbuka memaksanya untuk melakukan pengorbanan menteri. Dan sejurus ia menyerah, menumbangkan rajanya lalu menjabat tangan Tok Awang, Zainuddin Tambi masuk ke kedai. Tas kulitnya dijepit di ketiak baju batiknya yang separuh basah oleh keringat.
"Lagi senang kayaknya kelen, ya? Ada kabar baik?"
"Ah, kan, Pak Guru yang baru dapat kabar baik. Kok nanyak kami pulak," jawab Idam Marley.
"Kabar apa?"
"Gaji naik 300 persen."
"Naik, tapi gak sampek semenit. Salah cakap rupanya bapak itu. Gaji hakim yang dinaikkannya."
"Heran jugak, padahal udah termasuk tinggi gaji hakim, ya. Berapa? Ada lima puluh juta?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SKETSA-Siapa-Bilang-Rakyat-Tidak-Pernah-Bermimpi-Jadi-Kaya-Raya_.jpg)