Catatan Piala Dunia
Ke Mana Pergi Realisme Magis Itu?
Dongeng-dongeng yang menyimpan semangat perlawanan, penolakan menjadi inferior.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Bagaimana caranya berlari? Bagaimana dia menahan dan menyepak si kulit bundar?
Namun memang tak ada yang mustahil bagi keajaiban.
Sebagaimana hujan bunga kuning yang tiba-tiba turun dari langit meruapkan harum semerbak seiring kematian José Arcadio Buendia dalam novel Marquez, keajaiban bukan saja membuat Garrincha bisa bermain bola, lebih jauh juga mengantarkan ke Piala Dunia.
Dia bermain di tiga edisi Piala Dunia; 1958, 1962, dan 1966.
Bersama-sama Pele, Garrincha membentuk dinamic duo yang tiada tanding. Brasil tidak pernah kalah saat mereka berada di lapangan.
Setelah serangkaian kemenangan panjang, Brasil akhirnya kalah 1-3 dari Hungaria pada laga kedua fase grup Piala Dunia 1966 di Goodisen Park, 15 Juli. Pele yang dihantam cedera harus menepi.
Edisi Piala Dunia berikutnya, Garrincha sudah meninggalkan tim nasional. Namun warisannya, roh permainannya tetap tinggal. Ketajaman yang berbalut keindahan.
Atau sebaliknya, keindahan yang mematikan. Ginga! Jogo Bonito. Filosofi yang kemudian diwariskan dari masa ke masa, dan dinanti-nanti publik sepak bola sejagat tiap kali perhelatan Piala Dunia tiba.
Tak terkecuali tahun ini. Setelah terakhir kali menjadi kampiun pada 2002, atau 24 tahun lalu, mampukah Brasil kembali merangsek ke podium tertinggi?
Brasil datang dengan wajah baru. Federasi sepak bola Brasil, CBF, menunjuk pelatih berkebangsaan Italia, Carlo Ancelotti, untuk menukangi Canarinho (Kenari Kecil) --sebutan untuk Tim Nasional Brasil.
Ini merupakan kali ketiga sepanjang sejarah kursi pelatih kepala tim nasional diduduki orang non-Brasil.
Sebelumnya terdapat nama Filipo Nunez dan Flavio Costa Joreca.
Nunez yang berkebangsaan Argentina hanya bertahan satu laga: 7 September 1965 versus Uruguay. Joreca hanya sedikit lebih baik.
Dia berada di bench untuk dua laga, 14 Mei dan 17 Mei 1944, juga menghadapi Uruguay.
Kenapa mereka begitu cepat didepak? Satu jawaban yang sahih, Nunez dan Joreca tidak memahami filosofi sepak bola Brasil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Gambar-Ilustrasinya.jpg)