Catatan Piala Dunia
Ke Mana Pergi Realisme Magis Itu?
Dongeng-dongeng yang menyimpan semangat perlawanan, penolakan menjadi inferior.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Hanya orang Brasil yang paham bagaimana cara sepak bola Brasil dimainkan?
Bagaimana dengan Ancelotti? Keraguannya sama.
Ancelotti boleh menggenggam rekor sebagai pelatih yang menaklukkan lima kompetisi teratas di Eropa.
Dia juara bersama AC Milan di Italia, Chelsea di Inggris, Real Madrid di Spanyol, Bayern Munchen di Jerman, dan Paris Saint-Germain di Prancis.
Dia juga memenangkan lima tropi Liga Champions yang supremasi tertinggi sepak bola Eropa, masing-masing dua kali dengan Milan dan tiga kali bersama Madrid.
Namun gelar-gelar ini tak lantas membuat keraguan publik Brasil pupus.
Don Carlo boleh bergelimang gelar, tapi dia tetap bukan orang Brasil. Dia orang Italia. Dalam darahnya mengalir filosofi Cattenacio. Bukan Ginga. Bukan Jogo Bonito.
Dia tidak menjiwai realisme magis.
Keraguan ini akhirnya memang meletup di laga perdana Brasil di Piala Dunia 2026. Di hadapan Maroko, mereka seolah kehilangan daya. Kehilangan sengat.
Realisme magis Brasil, yang sebenarnya sudah makin sayup dalam dekade terakhir, berubah sepenuhnya menjadi roman picisan. Terutama di lini tengah.
Casemiro dan Guimaraes, nyaris tanpa fantasi di hadapan Ayyoub Bouaddi, remaja 18 tahun yang belum lama "membelot" dari Prancis.
Rapinha, Lucas Paqueta, sama saja. Hanya Vinicius Junior yang masih menunjukkan "roh" Garrincha.
Itu pun sekadar sisa-sisa.
(t agus khaidir)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Gambar-Ilustrasinya.jpg)