Catatan Piala Dunia
Cinta yang Menolak Dusta dan Sekumpulan Orang Tolol
SEBELAS hari sebelum Tim Nasional Iran menggelar laga perdana di Piala Dunia 2026, Marjane Satrapi meninggal dunia di Paris, Prancis.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
SEBELAS hari sebelum Tim Nasional Iran menggelar laga perdana di Piala Dunia 2026, Marjane Satrapi meninggal dunia di Paris, Prancis, kota tempatnya menjalani hidup selama 32 tahun.
Barangkali tidak terlalu banyak yang bersedih atas kematiannya di Iran. Tidak ada kibaran bendera duka. Tidak ada iring-iringan. Tidak di Tehran, tidak di Mashhad, juga tidak di Shiraz, kota yang dikenal sebagai pusat kebudayaan dan sastra. Hanya segelintir aktivis, wa bil khusus aktivis hak-hak perempuan dan kemanusiaan, yang selama ini dibelanya dari jauh, menyelenggarakan acara berskala kecil di ruang tertutup, membicarakan kembali karya-karyanya. Mungkin dengan was-was.
Di Iran, karya monumental Satrapi, 'Persepolis', sebuah novel grafis [meski Satrapi sendiri lebih suka menyebutnya komik], memang lebih sering dipandang sebagai bentuk perlawanan politik yang sekeras-kerasnya terhadap negara. Terutama kekuasaan rezim pemerintahan Republik Islam Teokratik. Ia dicap pemuja Syah Reza Pahlevi, presiden yang ditumbangkan dalam revolusi 1979. Saat itu, Marjene Satrapi, yang oleh ayah-ibunya dipanggil Marji, baru berusia 10 dan masih suka mengenakan jaket denim dan mengepang rambutnya.
Satrapi tidak menampik 'Persepolis' bertendensi politik. Namun ia menolak disebut pengkhianat bangsa. Ia menolak tudingan pembangkang. Dalam berbagai wawancara, Satrapi menegaskan dirinya mencintai Iran dengan sepenuh hati. Namun cinta, bilangnya, bukan berarti harus tunduk. Cinta tidak harus memuji. Kadangkala, cinta, adalah sikap yang tegas untuk menolak berdusta.
Dalam pengantar Persepolis edisi pertama yang terbit tahun 2000, Satrapi menulis begini: "Saya ingin Iran tidak hanya dibaca lewat pandangan sepihak perihal fundamentalisme, fanatisme, dan terorisme. Iran, bangsa besar dengan sejarah gemilang yang teramat panjang, tidak boleh dihakimi dari tindakan segelintir ekstremis."
Dengan kata lain, lewat 'Persepolis', Satrapi ingin dunia tahu tentang Iran yang sebenar-benarnya, bahwa benar negeri ini terluka tapi luka-luka itu tidak datang dari ruang kosong, dan dia sedikit banyak berhasil, walau di "Barat", dalam hal ini di Prancis, di Eropa, dan di Amerika (Serikat), tentunya, sisi yang lebih sering diapungkan adalah justru propaganda, absurditas kebijakan, dan romantisme seorang anak perempuan penggemar Iron Maiden dan Michael Jackson yang pernah bercita-cita menjadi nabi.
Saat Iran mendapatkan diskriminasi di Piala Dunia 2026, sebagai buntut perseteruan berlarut-larut dengan Israel yang dibantu Amerika Serikat, Marjene Satrapi tidak bereaksi apa-apa. Dia sudah menjauh dari segenap hiruk-pikuk semesta dan menepis segala peduli dan tenggelam sepenuhnya dalam kesedihan yang ekstrem. Satrapi mengalami depresi akut setelah berturut-turut kehilangan orang-orang yang dicintainya, yang memuncak pada kepergian sang suami, Mathias Ripa, seorang fotografer berkebangsaan Swedia. Ripa, satu-satunya sumber semangat Satrapi yang tersisa, tewas akibat kecelakaan lalu lintas.
Barangkali, para pemain Iran yang diboyong ke Piala Dunia 2016 tidak banyak mengenal Satrapi. Barangkali tidak sama sekali. Barangkali mereka bahkan belum pernah membaca Persepolis. Dalam pengetahuan dan pemahaman mereka, barangkali, Persepolis adalah nama klub sepak bola, klub legendaris yang melahirkan nama-nama legendaris: Ali Daei, Ali Karimi, Mehdi Mahdavikia, dan yang terkini, Mehdi Taremi.
Namun sadar tak sadar, pada diri tiap pemain Iran memang bersemayam sikap dan jiwa yang diterang-jelaskan Marjene Satrapi dalam Persepolis: kuat, patriotik, walau tidak harus selalu heroik.
Amerika Serikat, yang dengan picik dan pengecut menempatkan politik, berikut dendam-dendamnya, sebagai perangkat untuk melakukan tekanan terhadap negara-negara yang berseberangan dengan mereka, tak terkecuali dalam olah raga, memaksa Iran menjadi musafir. FIFA hanya menonton dari kejauhan. Tak berbuat apa-apa ketika Presiden Donald Trump menurunkan titah-perintah kepada badan imigrasi untuk tidak mengizinkan seisi skuat Iran tinggal lebih dari 12 jam di wilayah Amerika Serikat. Artinya, mereka mesti datang dan pergi di hari yang sama. Datang, bertanding, berkemas-kemas lalu segera terbang lagi.
Persoalannya, setelah terusir dari Amerika, Tim Nasional Iran mesti mengungsi dan menetap di Meksiko. Persisnya di Tijuana, dan waktu yang dibutuhkan untuk tiba di SoFI Stadium, Inglewood, California, mencapai hampir 6 jam. Ini belum seberapa. Sebab di laga terakhir babak penyisihan grup, Iran harus berlaga di Stadion Lumen Field, Seattle. Jarak tempuhnya dari Tijuana? Sembilan belas jam!
Semestinya, jika melihat dengan sudut pandang logika olahraga, situasi ini telah membunuh Iran. Benar-benar membunuh! Bagaimana mungkin mereka bisa bermain saat tubuh masih sepenuhnya dibekap jetlag? Stamina jelas bakal terkuras. Belum lagi suhu yang tak bersahabat. Panas dan lembab. Hydration break rasa-rasanya tidak akan banyak membantu.
Namun yang tampak di SoFI Stadium, 16 Juni, justru berkebalikan. Memang, gelagat kelelahan tetap membayang. Terutama di awal-awal laga. Mungkin ada sedikit tekanan psikologis juga. Selandia Baru melesakkan gol pembuka saat laga baru berjalan tujuh menit, tapi setelah itu, Iran, pelan-pelan menemukan ritme, dan skor akhir 2-2, tidak bisa dibilang buruk. Sekitar 70 ribu penonton memberikan tepuk tangan panjang saat Tim Nasional Iran meninggalkan lapangan. Tak terkecuali Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Di sesi konferensi pers pascapertandingan, Mehdi Taremi, setelah menjawab sekian pertanyaan, balik bertanya kepada seorang wartawan Amerika, "kau terus bertanya soal politik, soal negara kami. Kau tidak punya pertanyaan tentang sepak bola?"
Taremi tidak menunggu jawaban. Dia berdiri lantas beranjak meninggalkan ruangan dengan bibir yang tersenyum. Dan sangat boleh jadi, senyumnya akan mengembang kian lebar, jika tahu, dalam Persepolis, Marjene Satrapi menuliskan kalimat ini: "dalam hidup kau pasti bertemu orang-orang brengsek. Jika suatu ketika kau merasa tersakiti ulah mereka, selalu ingat, itu karena mereka cuma sekumpulan orang tolol".(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Cinta-yang-Menolak-Dusta-dan-Sekumpulan-Orang-Tolol_Catatan-Piala-Dunia-2026.jpg)