TRIBUN WIKI

Hasi Nifolasara, Peti Jenazah para Bangsawan di Nias Berkepala Lasara

Hasi Nifolasara adalah peti jenazah tradisional khas masyarakat bangsawan (si’ulu) di Nias Selatan yang berbentuk seperti perahu

Tayang:
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Facebook Go Nias Tour
PETI MATI- Seorang pengukir sedang membuat ukiran di peti mati yang diberi nama "Hasi Nifolasara". Ini adalah peti mati bangswasan di Nias Selatan. 

c) Si’ila, yaitu: kaum cerdik-pandai yang menjadi anggota badan musyawarah desa.

Mereka yang selalu bermusyawarah dan bersidang (Orahu) pada setiap masalah-masalah yang dibicarakan dalam desa, dipimpin oleh Balö Zi’ulu dan Si’ulu lainnya;

Baca juga: Gocah Pahlawan, Pendiri Kesultanan Deli yang Disebut Keturunan India

 d) Sato, yaitu: Masyarakat biasa (masyarakat kebanyakan) juga sering disebut Onombanua atau si fagölö-gölö atau niha si to’ölö;
 e) Sawuyu (Harakana), yaitu: golongan masyarakat yang terendah.
Mereka berasal dari orang-orang yang melanggar hukum dan tidak mampu membayar denda yang dibebankan kepadanya berdasarkan keputusan sidang badan musyawarah desa.
Kemudian mereka ditebus oleh seseorang (biasanya para bangsawan), oleh karenanya, semenjak itu mereka menjadi budak (abdi) bagi penebus mereka.
Mereka juga berasaldari orang-orang yang tidak mampu membayar utang-utangnya, orang-orang yang diculik atau orang-orang yang kalah dalam perang, kemudian mereka menjadi budak.
Stratifikasi sosial di Nias memiliki pemahaman dan dasar agama suku.
Dualisme paradewa tercermin dalam pelapisan sosial di Nias.
Sifat dewa atas sebagai pencipta dan yangmemerintah kosmos, itu dimiliki oleh kaum bangsawan (nga`ötö zalawa/si'ulu) dan sifatdewa bawah dimiliki oleh rakyat biasa (nga`ötö niha sato/sito`ölö).
Sedangkan budak atau nga`ötö zawuyu, pada konsep asli tata kemasyarakatan Nias, tidak dijumpai.
Kaum budak timbul kemudian, karena beberapa alasan, misalnya tawanan perang, atau orang yang tidak sanggup membayar utang lalu dijadikan budak, atau orang yang seyogianya dihukummati karena kesalahannya yang cukup berat, lalu ditebus oleh kaum bangsawan dankemudian dijadikan budak.

Peti Mati

Saat seseorang meninggal dunia, mereka akan dimakamkan menggunakan peti mati.

Khusus keluarga bangsawan, mereka akan dimakamkan menggunakan peti mati yang bernama Hasi Nifolasara.

Hasi Nifolasara adalah peti jenazah tradisional khas masyarakat bangsawan (si’ulu) di Nias Selatan yang berbentuk seperti perahu dengan kepala lasara (makhluk mitologi mirip naga) di bagian ujungnya.

"Nifolasara" berarti "seperti kapal," menggambarkan bentuk peti yang menyerupai perahu ini. Kepala lasara merupakan simbol kehormatan dan lambang status bangsawan dalam masyarakat Nias Selatan.

Sejarah Hasi Nifolasara berkaitan erat dengan tradisi pemakaman golongan bangsawan di Nias Selatan.

Baca juga: Sejarah Siantar Hotel, Saksi Bisu Kota Siantar Sejak Masa Kolonial

Pada masa lalu, jenazah bangsawan tidak dikubur sepenuhnya, melainkan peti jenazahnya dimakamkan dengan kepala lasara menonjol ke permukaan tanah sebagai penanda kuburan bangsawan tersebut.

Hal ini juga melambangkan perjalanan sang almarhum ke alam akhirat dengan perahu, sementara kepala lasara yang menyerupai naga adalah simbol perlindungan dan kemuliaan.

Penggunaan Hasi Nifolasara khusus diperuntukkan bagi golongan bangsawan atau si’ulu yang memiliki kedudukan istimewa dan keistimewaan tertentu di masyarakat.

Tradisi ini terkait dengan sistem sosial yang kuat di Nias yang mengelompokkan masyarakat dalam tingkatan kelas seperti raja, bangsawan, rakyat biasa, dan budak.

Baca juga: Masjid dan Rumah Sejarah MTQ Pertama di Indonesia, Kini Masuk Sebagai Cagar Budaya Pemkab Asahan

Peti jenazah Hasi Nifolasara hanya ditemukan di Telukdalam, Nias Selatan, dan merupakan bagian dari prosesi besar pemakaman bangsawan yang sakral dan penuh makna simbolik.

Saat ini, tradisi penguburan dengan peti Hasi Nifolasara sudah mengalami perubahan, di mana peti jenazah kini umumnya dikubur seluruhnya dan kepala lasara dibuat sebagai tanda kuburan di atas tanah, baik dari kayu maupun semen, agar masyarakat tetap dapat mengenali makam bangsawan tersebut.(ray/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved