Kisah Pilu Seorang Dokter Korban KDRT hingga Tak Sadar Telah Membunuh Suaminya dengan Martil

Salah seorang korban KDRT di Australia, Chamari Liyanage, tidak terlihat seperti perempuan yang mengalami kekerasan bertahun-tahun.

IST
Chamari Liyanage 

"Ketika saya sampai di penjara, itu jadi tempat aman. Saya menemukan kedamaian pikiran dan hati saya sendiri. Hal ini memungkinkan saya mencari dan menjadi diri saya sendiri," katanya lagi.

Di penjaralah dia mengembangkan minatnya terhadap seni lukis.

"Melukis itu seperti meditasi. Melukis membantu saya berkonsentrasi. Melukis juga membantu saya membebaskan diri dan mengeluarkan emosi yang tersembunyi dalam diri saya begitu lama, selama bertahun-tahun, untuk mengeluarkan emosi dengan lebih mudah," paparnya.

Saat masih berada di penjara, teman-temannya mendukung Liyanage, dan menggelar kampanye agar dia tetap tinggal di Australia setelah visanya dibatalkan tahun lalu.

Bantuan yang diharapkannya datang pada bulan Januari ketika Menteri Imigrasi Australia mencabut keputusannya mendeportasi Chamari kembali ke Sri Lanka.

Itu alasan lain mengapa Chamari bersedia berbagi kisahnya.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Australia yang telah mendampingi saya selama masa-masa sulit seperti ini, dan secara terus menerus mendukung saya,” katanya.

"Saya ingin berterima kasih dengan tulus atas dukungan mereka, kebaikan mereka dan pemahaman mereka," katanya.

"Dan saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Din, untuk apa yang mereka harus lalui, dan ingin mengungkapkan simpati saya untuk semua orang yang telah terdampak," katanya lagi.

Kebebasan baru yang didapati Chamari Liyanage datang bersama daftar panjang hal yang perlu dia lakukan.

Dia berusaha mendapatkan kembali izin prakteknya sebagai dokter, dan membantu orang lain yang merasa terjebak dalam hubungan yang kasar.

Tapi pertama-tama, dia ingin menikmati hal yang sederhana seperti ke pantai dan merasakan pasir di kakinya.

Selama 2,5 tahun berada di dalam penjara dibandingkan 4,5 tahun perasaan terperangkap di dalam pernikahannya, maka hal-hal semacam ini tidak dapat terbayangkan baginya.

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved