Brigadir J Ditembak Mati
Selain Ferdy Sambo dan Bharada E, Komnas HAM Sebut Ada Satu Tersangka Lagi Ikut Tembak Birgadir J
Komnas HAM mengklaim ada tiga tersangka yang menembak Brigadir Yosua Hutabarat sebelum meninggal dunia.
Ia meminta agar tidak hanya rekaman CCTV di rumah eks Kadiv Propam Polri di Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Saguling dan Jalan Duren Tiga, yang dibuka kepada publik.
"Dan kami perlu itu CCTV di Magelang dibuka. Jangan cuma CCTV yang ada di Saguling dan dengan yang ada di Duren Tiga yang dibuka. Silakan Komnas HAM membuka yang seterang-terangnya," ujarnya.
Sebab, kata dia, sebelumnya keluarga telah menerima surat dari penyidik kepolisian terkait pemberhentian laporan kasus dugaan kekerasan seksual yang dilaporkan oleh Putri Candrawathi.
"Kami dapat surat ya, sudah diberhentikan masalah pelecehan seksual (oleh penyidik -red), bahwasanya tidak ada," ujarnya.
Ia mempersilakan Komnas HAM sebagai penyidik untuk menunjukkan bukti-bukti dugaan kekerasan seksual yang disebut sebagai pemicu pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.
Roslin Simanjuntak, tak percaya keponakannya melakukan kekerasan seksual terhadap Putri Candrawathi.
Brigadir J, ujar Roslin, pernah bercerita kepada keluarganya bahwa ia sudah menganggap istri komandannya itu sebagai ibu dan orangtuanya.
"Kami jamin itu tidak akan ada pelecehan terhadap Ibu Putri," tegasnya kepada Kompas TV di program Kompas Siang, Jumat (2/9/2022).
Ia berkali-kali mengungkapkan, keluarga Brigadir J memahami perilaku dan sifat Brigadir J sejak kecil.
"Karena kami tahu anak kami itu siapa, gitu ya. Kami tahu anak kami itu perilakunya kayak mana (seperti apa -red), apalagi Ibu Putri ini selama ini sudah dianggapnya orang tuanya," ujar Roslin.
Ia juga mengatakan bahwa Brigadir J sangat menghormati Putri Candrawathi. Berdasarkan cerita Brigadir J kepada keluarga, Roslin juga menyebut Putri sudah menganggap Yosua seperti anak.
"Dia (Putri) menganggap Yosua sebagai anak dan Yosua juga menganggap Ibu Putri dan Pak Sambo sebagai ayah di tempat dia kerja ya. Sebagai komandan, sebagai ayah, sebagai orang tua, sebagai ibu ya," terangnya.
"Ndak (tidak -red) mungkin dia berbuat begitu (melakukan kekerasan seksual -red) kepada orangtuanya, dan kami tahu sifat anak kami itu bagaimana dari kecil," imbuhnya.
Menurut Roslin, tidak ada cerita Brigadir J yang janggal kepada keluarga selama berada di Magelang.
"Semua cerita yang baik-baik, malahan dia, bu Putri, malah menunjukkan bahwasannya almarhum itu menggosok (menyetrika -red) bajunya, menggosok baju anaknya (anak Putri dan Ferdy Sambo -red) kepada adiknya (adik Brigadir J -red) Reza," ujarnya.
Adik Brigadir J yang bernama Reza itu, lanjut Roslin, bahkan diminta Putri untuk menyusul ke Magelang. Ia menambahkan, Putri juga memuji Brigadir J yang dinilai rajin bekerja.
"Lihat lah abangmu ini baik banget, luwes banget, semua dikerjakan, saya sampai nggak sanggup menggajinya' sampai kayak gitu omongan Bu Putri," tegas Roslin.
Roslin menilai tindakan Putri memotret Brigadir J dan mengirimkan foto tersebut kepada adiknya menunjukkan bahwa hubungan mereka sudah seperti hubungan ibu dan anak.
"Untuk apa dia memfoto dan memberikan itu kepada adik almarhum, Reza, kalau memang itu enggak dianggapnya sebagai anaknya dan almarhum juga menganggap itu (Putri Candrawathi -red) sebagai ibunya?," tanyanya.
Menurut Roslin, Brigadir J tak pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama atau kepercayaannya sejak kecil.
"Justru anak kami dari kecilnya itu sampai dia menjadi seorang angkatan itu tidak mau melakukan hal yang berlawanan dengan iman kepercayaan kami," ungkapnya.
Ia juga mengatakan bahwa pihak keluarga belum berkomunikasi dengan pengacara terkait dugaan kekerasan seksual yang disebut sebagai latar belakang kasus pembunuhan berencana Brigadir J oleh tersangka Ferdy Sambo, Bripka Ricky Rizal, Kuat Ma'ruf, Putri Chandrawati, dan Bharada Richard Eliezer.
"Belum ada. Sama kami belum ada ya, karena kami juga harus mencari makan ya. Jadi komunikasi kami seharian ini belum ada, dan posisi kami ini lagi di ladang juga ni lagi kerja," ungkap Roslin.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyerahkan rekomendasi kepada penyidik Polri terkait kasus pembunuhan Brigadir J dan menyebut kasus pembunuhan berencana Brigadir J dilatarbelakangi oleh adanya dugaan kekerasan seksual terhadap Putri Candrawathi di Magelang.
"Berdasarkan temuan faktual disampaikan terjadi pembunuhan yang merupakan extrajudicial killing, yang memiliki latar belakang adanya dugaan kekerasan seksual (di Magelang)," kata Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dikutip dari Breaking News di Kompas TV Kamis (1/9) kemarin.
Padahal, pada pertengahan Agustus lalu, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi secara resmi menghentikan laporan dugaan pelecehan seksual Putri Candrawathi di rumah dinas Kadiv Propam Polri, Duren Tiga setelah pihaknya melakukan gelar perkara dan tidak menemukan bukti.
"Berdasarkan hasil gelar perkara tadi kedua perkara ini kita hentikan penyidikannya karena tidak ditemukan peristiwa pidana," katanya di Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 12 Agustus 2022.
(*)
Sebagian artikel sudah tayang di kompas.com