Sidang Kerangkeng Manusia

FAKTA-FAKTA Perbudakan di Kerangkeng Manusia Bupati Langkat Nonaktif Terbongkar di Pengadilan

Fakta-fakta perbudakan di kerangkeng manusia milik Bupati Langkat nonaktif terungkap di persidangan yang digelar di PN Stabat

Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/M ANIL RASYID
Sidang lanjutan kerangkeng manusia mengungkap adanya serangkaian tindak perbudakan dan pendirian rehabilitas tanpa izin di rumah Bupati Langkat nonaktif, Terbit Rencana Peranginangin 

TRIBUN-MEDAN.COM,LANGKAT- Fakta-fakta seputar perbudakan di kerangkeng manusia milik Bupati Langkat nonaktif, Terbit Rencana Peranginangin terungkap di persidangan.

Menurut keterangan saksi, yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) Jimmy Carter dan Baron Sidik, bahwa kerangkeng manusia milik Bupati Langkat nonaktif itu hanya kedok saja untuk melakukan perbudakan.

Selain tidak punya izin, kerangkeng manusia itu juga diketahui sebagai lokasi ajang penyiksaan sejumlah pekerja.

Baca juga: SIDANG Kerangkeng Manusia Milik Bupati Langkat, Dokter Forensik Pastikan Ada Kekerasan Berujung Maut

"Berdasarkan data yang ada di Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, bahwa kerangkeng yang terletak di belakang rumah Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin-Angin, tidak pernah dilaporkan oleh Dinas Sosial kabupaten setempat, sebagai tempat rehabilitasi sosial korban penyalagunaan Napza untuk masyarakat," ujar Jimmy, Rabu (21/9/2022), saat membacakan BAP saksi ahli Bidang Hukum dan Sosial, Ali Imron Lubis. 

Sementara JPU Baron Sidik, saat membacakan BAP saksi Ninik Rahayu mengatakan, kerangkeng manusia milik Terbit Rencana Peranginangin selama ini dijadikan tempat eksploitasi pecandu narkoba. 

"Pada faktanya, pusat rehabilitasi hanyalah kedok, tidak memenuhi syarat sebagai pusat rehabilitasi. Justru menjadi tempat terjadinya kekerasan dan eksploitasi," ujar Baron membacakan BAP Ninik.

Baca juga: SIDANG Kerangkeng Manusia Milik Bupati Langkat, Dokter Forensik Pastikan Ada Kekerasan Berujung Maut

Selain itu, terdapat tindakan penjemputan paksa (terhadap calon penghuni kerangkeng), yang kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa ke kerangkeng.

Adanya penampungan atau penyekapan di kerangkeng alias kereng.

Terdapat juga pengiriman anak kereng ke perkebunan kelapa sawit milik Terbit Rencana Peranginperangin.

Baron menambahkan, dalam BAP yang dibacakannya, hak-hak warga binaan yang seharusnya direhabilitasi juga tidak terpenuhi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved