Catatan Sepak Bola
Teringat Jawaban Pak Edy
Premis Erick, Indonesia membutuhkan laju kencang untuk masuk ke tier 2, kelompok 100 besar peringkat FIFA.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com- Bertahun lalu, saat masih menjabat Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi pernah mengutarakan kalimat yang sungguh ciamik.
Kalimat yang disampaikannya sebagai jawaban atas pertanyaan ‘apakah syarat agar Tim Nasional Indonesia bisa berprestasi mentereng’.
Pak Edy bilang, ‘Tim nasional yang baik? Suporter harus baik, wartawan harus baik’.
Kala itu, saya tergelak.
Betul-betul tergelak, panjang lagi keras.
Dalam pemahaman saya, yang berkelebat seketika, Pak Edy ngawur.
Ditanya apa, dijawab apa.
Sungguh kacau bin amburadul. Pikir saya, apakah jika suporter baik dan wartawan baik, maka tim nasional akan baik? Bukankah semestinya yang perlu dibenahi [agar baik] adalah kompetisi, jajaran pelatih, pemain, wasit, dan organisasi PSSI sendiri?
Begitulah! Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk menyadari betapa jawaban Pak Edy itu benar sekali.
Dia sama sekali tidak ada yang keliru.
Sama sekali tidak ngawur. Tim nasional memang akan jadi baik apabila suporternya baik dan wartawannya juga baik. Persisnya, wartawan dan medianya.
Belakangan kesahihan jawaban ini kian menguat pula. Kita semua tahu Erick Thohir telah melakukan perubahan besar terhadap sepak bola Indonesia.
Boleh dikata mendekati revolusioner.
Ia mengubah pola terapan penanganan, dari semula bottom up jadi sebaliknya.
Memapas pertanyaan sepanjang masa, ‘telur dan ayam duluan mana (?)’, Erick Thohir melakukan pembenahan dari puncak piramida, bukan dari dasarnya. Memulainya dari tim nasional senior.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Tribunnews-Kartu-Merah.jpg)