Catatan Sepak Bola
Teringat Jawaban Pak Edy
Premis Erick, Indonesia membutuhkan laju kencang untuk masuk ke tier 2, kelompok 100 besar peringkat FIFA.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Kalimat-kalimat mereka, yang sebenarnya itu ke itu saja, diputar-putarkan dijungkirbalikkan hingga menjadi berita-berita yang secara konteks jauh berbeda dari yang dimaksudkan, hingga membuat situasi yang semula cenderung adem ayem berubah jadi panas membara.
AMEC seolah dikesankan sebagai kejuaraan "Maha Penting", yang bahkan lebih tinggi stratanya dari Piala Asia dan bahkan Piala Dunia.
Di sisi lain, tak sedikit yang menggosok-gosok soal marwah, soal harga diri bangsa; bahwa setelah sekian lama, Indonesia tidak juga menjadi kampiun. Narasinya, 'masak sama Malaysia saja kalah?'.
Belakangan, muncul yang rada-rada gawat. Ada yang mengusulkan agar hasil AMEC jadi ajang evaluasi bagi Shin Tae-yong. Jika gagal bawa Indonesia juara, dia harus angkat kaki.
Situasi begini, disadari atau tidak, mengganggu konsentrasi tim.
Shin Tae-yong mungkin memang tidak bisa berbahasa Indonesia.
Mungkin tidak paham kosa kata Bahasa Indonesia. Terlebih-lebih yang nyelekit nyeleneh.
Namun dia punya rekan-rekan, punya penterjemah, yang bisa saja membisikkan perkembangan-perkembangan ini kepadanya.
Pun pemain.
Atas nama profesionalisme boleh jadi mereka tidak membuka media sosial selama turnamen berlangsung, tapi kerabat, teman, atau orang-orang terdekat mereka pasti buka dan bukan tak mungkin pula menyampaikan kabar.
Padahal sejak jauh hari PSSI dan Shin Tae-yong telah secara terang-benderang menyampaikan Indonesia mengirimkan skuat muda ke AMEC.
Tujuannya jelas. Pertama, mempersiapkan skuad pelapis untuk berlaga di SEA Games 2025 dan Kualifikasi Piala Asia U-23, serta memberikan caps untuk pemain-pemain baru, yang potensial untuk menjadi bagian dari skuad senior di masa mendatang.
Tujuan-tujuan ini, terutama yang kedua, sudah tercapai.
Dari para debutan yang dipanggil Shin Tae-yong, enam di antaranya sudah menjalani debut untuk tim nasional.
Bahkan saat menghadapi Vietnam yang notabene menurunkan skuad utama, STY memberi kepercayaan kepada tiga pemain debutan sekaligus; Mikael Alfredo Tata, Achmad Maulana Syarif, dan Rivaldo Pakpahan.
Di laga sebelumnya, Shin Tae-yong memilih Victor Dethan, Alfriyanto Nico, Cahya Supriadi, Daffa Fasya, dan Arkhan Kaka yang baru berusia 17.
Sekali lagi, tujuan sudah tercapai. Tim nasional sudah baik.
Namun berbelok menjadi tak baik lantaran koprol-koprol berita yang ditulis wartawan dan ditayangkan media, terutama yang turut pula dipancarluaskan lewat media sosial dengan narasi yang rata-rata serba tanggung tak utuh, yang kemudian dimamah dengan cara teramat menyedihkan oleh sebagian suporter Indonesia yang sejak lama memang memiliki tabiat ngamukan, tak sabaran, dan selalu merasa paling benar.
(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Tribunnews-Kartu-Merah.jpg)