Catatan Sepak Bola

Teringat Jawaban Pak Edy

Premis Erick, Indonesia membutuhkan laju kencang untuk masuk ke tier 2, kelompok 100 besar peringkat FIFA.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUNNEWS
Pemain sekaligus kapten Tim Nasional Indonesia, Muhammad Ferrari berjalan meninggalkan lapangan usai diganjar kartu merah akibat melakukan sikutan pada laga terakhir fase grup ASEAN Mitsubishi Electric Cup (AMEC) 2024 versus Filipina di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (21/12/2024). Indonesia gagal melangkah ke semifinal usai ditaklukkan Filipina 0-1. 

Jika Maret 2025 nanti, Indonesia bisa –paling tidak– menahan imbang Australia dan menekuk Bahrain, maka secara hitung-hitungan, Piala Dunia bukan lagi sebatas mimpi erotis. Piala Dunia benar-benar berada di depan mata dan bisa digapai.

Bukankah ini luar biasa? Layangkan ingatan ke era Nurdin Halid, era La Nyalla Mattaliti, era Edy Rahmayadi dan era Mochamad Iriawan atawa Iwan Bule, maka rasa-rasanya diksi ‘luar biasa’ terlalu sederhana.

Di era-era ini, Piala Dunia dan kualifikasinya nyaris tidak pernah jadi atensi besar para pecinta sepak bola Indonesia. Ajang yang sama sekali tak dinanti.

Iya, wajar, apalah gunanya menanti sesuatu yang tidak menjanjikan harapan dan hanya akan berbuntut kecewa, bukan?

Piala Dunia terlalu jauh untuk dijangkau. Maka bagi Indonesia, cukuplah SEA Games dan AFF Cup, turnamen antar negara-negara ASEAN yang hanya dilirik sekilas pintas oleh FIFA.

Turnamen yang menyediakan hadiah kecil dan tambahan poin FIFA yang juga sama kecilnya.

Bertahun-tahun, Indonesia menaruh harap di turnamen ini dan bertahun-tahun pula hanya berakhir sebagai kegagalan. Paling mentok runner up.

Sampai di sini tentu muncul pertanyaan, apa korelasi celoteh panjang lebar ini dengan jawaban Pak Edy? Di tangan Erick Thohir, di tangan Shin Tae-yong, juga Indra Syafri dan Nova Arianto, tim-tim nasional sudah baik.

Namun kebaikan ini, masih kerap mengalami guncangan, justru lantaran ulah suporter dan wartawan.

Iya, ini barangkali sebangsa self-correction juga. Di era “medsos-AI-isme” yang serba cepat menggebu-gebu, media memang dituntut untuk ikut menekan gas dalam-dalam.

Ibarat mobil, mesin-mesin media harus di-tune-up, diberi tambahan kekuatan, kalau perlu ditanamkan perangkat turbo dan NOS.

Media saling berlomba cepat menyajikan berita-berita menarik, yang sungguh celaka, oleh beberapa di antaranya (untuk tidak mengatakan sebagian besar) dipahami sebagai ‘berita sensasional’. Termasuk di ranah sepak bola.

Tengoklah yang mencuat dalam beberapa hari terakhir.

Sensasionalitas berita, secara menakjubkan, bisa mengubah opini terhadap Tim Nasional Indonesia yang turun di ajang AFF 2024 –kini bernama ASEAN Mitsubishi Electric Cup (AMEC).

Media, dan wartawannya tentu saja, sedemikian rupa menggoreng-goreng potongan-potongan kalimat Erick Thohir dan Shin Tae-yong, juga anggota Executive Committee (Exco) Arya Sinulingga, bahkan para pengamat sepak bola macam Justin Sulaksana dan Tomy Welly.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved