Catatan Sepak Bola

Teringat Jawaban Pak Edy

Premis Erick, Indonesia membutuhkan laju kencang untuk masuk ke tier 2, kelompok 100 besar peringkat FIFA.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUNNEWS
Pemain sekaligus kapten Tim Nasional Indonesia, Muhammad Ferrari berjalan meninggalkan lapangan usai diganjar kartu merah akibat melakukan sikutan pada laga terakhir fase grup ASEAN Mitsubishi Electric Cup (AMEC) 2024 versus Filipina di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (21/12/2024). Indonesia gagal melangkah ke semifinal usai ditaklukkan Filipina 0-1. 

Premis Erick, Indonesia membutuhkan laju kencang untuk masuk ke tier 2, kelompok 100 besar peringkat FIFA.

Saat ia mulai menjabat Ketua Umum PSSI, Tim Nasional Indonesia terpuruk di posisi 172 pada daftar peringkat FIFA, tier 4. Strata bawah yang mengharuskan Indonesia memulai perjalanan menuju Piala Dunia 2026 dari kualifikasi ronde pertama, menghadapi Brunei Darussalam.

Kelompok-kelompok yang tidak menyukai Erick [tentu yang begini selalu ada], menentang langkah ini.

Dalam pandangan mereka, perbaikan sepak bola Indonesia tetap harus dimulai dari bawah lalu pelan-pelan bergerak ke atas. Dari pembibitan di sektor akar rumput. 

Erick bergeming. Dalam banyak kesempatan ia menyebut, metode begini sudah dicoba berpuluh-puluh tahun dan hasilnya nol besar.

Bukan membaik malah tambah rusak. Maka harus diambil langkah pembeda. Apalagi, sebutnya, di negeri terkasih ini, yang masih menjadi orientasi adalah hasil.

Makin cepat dapat hasil makin baik. Tak terkecuali dalam sepak bola.

Jika tidak tropi kejuaraan, setidak-tidaknya dari sisi penampilan tidak memalukan. 

Tidak terus-menerus jadi bulan-bulanan. 

Erick pun jalan terus. Ia bekerja cepat memperbaiki kualitas tim nasional, memperkaya skuat dengan pemain-pemain diaspora, pemain-pemain keturunan; half-blood, yang dikembalikan status kewarganegaraannya lewat program naturalisasi.

Langkah yang tidak baru-baru amat, sebenarnya. 

Naturalisasi sudah dilakukan sejak era kepemimpinan Nurdin Halid. Bedanya, Erick “merekrut” pemain-pemain dari kelas yang lebih di atas. Pemain-pemain grade B dan A.  

Bukan pemain-pemain yang dicomot sembarang. Reputasi Erick Thohir sebagai “pemain lama” –dan cukup terhormat– di kancah sepak bola Eropa, menjadi magnet yang besar bagi pemain-pemain tersebut untuk datang dan bergabung dengan Indonesia –rela melepas kewarganegaraan lamanya.

Sejauh ini hasil “revolusi” Erick Thohir lumayan cemerlang. Indonesia menembus level Asia di semua kelompok usia, nyaris lolos Olimpiade, dan sampai sejauh ini masih memiliki peluang untuk terbang ke Amerika, Meksiko dan Kanada tahun 2026.

Iya, sampai match day enam kualifikasi tiga, Indonesia bercokol di posisi tiga, satu strip di bawah peringkat yang menyediakan tiket untuk lolos langsung ke Piala Dunia.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved