Haji, Al-Ghazali dan Keganjilan Kita

Kita hidup di masyarakat yang gemar memberi label. Gelar “haji” bukan sekadar penanda spiritual, tetapi sering berfungsi sebagai simbol status.

Tayang:
Editor: iin sholihin
TRIBUN MEDAN
Dosen UIN Sumatera Utara/ Katib PWNU Sumatera Utara Dr H Abrar M Dawud Faza MA 

Di titik ini, haji mulai terlihat seperti cermin yang jujur memantulkan bukan hanya kesalehan, tetapi juga ambisi.

Al-Ghazali juga berbicara tentang perilaku selama berhaji: menghindari ucapan kotor, maksiat, dan perdebatan. Kedengarannya normatif.

Namun, jika direnungkan, ini adalah latihan yang sulit. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia modern justru terbiasa bereaksi cepat, mudah tersinggung, dan gemar berdebat.

Haji, dalam kerangka ini, adalah semacam eksperimen: apakah seseorang mampu menahan diri di tengah tekanan, keramaian, dan ketidaknyamanan? Lalu, ada satu hal yang jarang dibicarakan secara serius: keikhlasan menerima kerugian.

Al-Ghazali menyebut bahwa kehilangan harta, kelelahan fisik, bahkan kesulitan selama perjalanan, adalah bagian dari ibadah selama diterima dengan lapang.

Ini pandangan yang agak asing di zaman yang serba terukur. Kita terbiasa menghitung untung-rugi, bahkan dalam urusan spiritual. Haji pun kadang diposisikan sebagai “investasi akhirat” dengan logika yang nyaris ekonomis. Dalam logika seperti ini, keikhlasan menjadi barang langka.

Yang paling penting, tentu saja, adalah hasil akhirnya. Al-Ghazali tidak terlalu tertarik pada apakah seseorang telah berhaji atau belum. Ia lebih tertarik pada apa yang terjadi setelahnya.

Haji mabrur, katanya, ditandai oleh perubahan: meninggalkan maksiat, memperbaiki pergaulan, dan meningkatkan kualitas hidup beragama. Ukurannya sederhana, tetapi justru sulit.

Di sinilah keganjilan kita semakin tampak. Kita hidup di tengah masyarakat di mana simbol keagamaan cukup kuat, tetapi tidak selalu diikuti oleh integritas sosial yang sepadan.

Tidak sulit menemukan orang yang telah berhaji, tetapi masih terlibat dalam praktik yang merugikan orang lain. Tentu ini bukan generalisasi, tetapi cukup untuk menimbulkan pertanyaan.

Apakah haji gagal? Atau kita yang terlalu cepat merasa selesai? Tulisan Al-Ghazali, yang lahir hampir seribu tahun lalu, terasa seperti teguran yang datang terlambat atau mungkin kita yang terlalu lama menghindarinya.

Ia mengingatkan bahwa ibadah bukan soal seberapa jauh seseorang pergi, tetapi seberapa dalam ia berubah.

Pada akhirnya, haji bukan hanya perjalanan ke Makkah. Ia adalah perjalanan yang seharusnya mengganggu kenyamanan kita sendiri. Dan mungkin, justru di situlah letak maknanya: ketika seseorang tidak lagi bisa pulang sebagai orang yang sama. (*)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved