Adian Napitupulu Ribut Dengan Dokter Ani Hasibuan, Persoalkan Beban Kerja Penyebab Kematian KPPS

Di awal penjelasan dr. Ani merasa beban kerja yang diemban petugas KPPS tidak memiliki kelebihan yang berarti.

Adian Napitupulu Ribut Dengan Dokter Ani Hasibuan, Persoalkan Beban Kerja Penyebab Kematian KPPS
Tangkapan Latar YouTube
Adian Napitupulu dan dokter Ani Hasibuan 

TRIBUN-MEDAN.com-Dokter Spesialis Syaraf Ani Hasibuan tidak sepakat apabila kematian 554 petugas Kelompok Petugas Pemungutan Suara (KPPS) disebut karena kelelahan.

Ia justru mengkritisi Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang terkesan lalai dalam mencari orang yang bertugas, dengan tidak memastikan mereka dalam kondisi sehat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber di acara Catatan Demokrasi Kita TV One, Selasa (7/5/2019).

Di awal penjelasan dr. Ani merasa beban kerja yang diemban petugas KPPS tidak memiliki kelebihan yang berarti.

Bahkan dia sempat membandingkan dengan tugas seorang dokter spesialis yang beban kerjanya lebih berat.

“Kalau kita bicara fisiologi, kelelahan itu kan kaitannya dengan fisik. Orang beraktifitas dia pakai gula, metabolisme. Kalau dia capek, hipoglikemia, dia lapar. Kalau enggak, dia hipoksia, dia ngantuk. Orang capek itu, dia ngantuk dan lapar. Kalau dipaksa, dia pingsan, yah mati dong.

Baca: Rizal Ramli Buka-bukaan Setelah KSAD Jenderal Andika Kejar Oknum Letkol Penyebar Informasi Hoaks

Baca: Gramedia akan Kerja Sama dengan Pemprov Sumut untuk Tingkatkan Literasi di Sumatera Utara

“Dan saya lihat beban kerja, itu beban kerjanya saya nggak melihat ada fisik yang sangat capek. Justru yang lebih capek itu dokter yang lain ambil spesialis mas. Kerja 3 hari 3 malam, itu nggak ada yang mati. Adanya makin gendut. KPPS ada 7 orang, bisa bergantian,” ucapnya.

Wanita itu juga menambahkan bahwa selama 22 tahun berprofesi sebagai dokter, dirinya tidak pernah dirinya menemukan kasus kematian yang disebabkan karena kelelahan.

“Kalau ada gangguan jantung di awal, kemudian dia bekerja, fisik diforsir, kemudian sakit jantungnya dipicu. Berarti itu karena sakit jantungnya dong, bukan karena kelelahan.”

Menurut dokter, kematian sebanyak 554 orang itu merupakan kelalaian dari pihak KPU yang tidak mempersiapkan orang-orang yang tepat.

Halaman
123
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved