Breaking News

Opini Online

Denyut Digital di Jantung Sumatera: Mendorong UMKM Kreatif Medan sebagai Mesin Baru Ekonomi Urban

Ekonomi digital Indonesia sendiri menunjukkan pertumbuhan yang fenomenal.

Editor: AbdiTumanggor
Dok.Pribadi
Dr. Aryanto Tinambunan, MSi. (Dok.Pribadi) 

Oleh: Dr. Aryanto Tinambunan, MSi

HIRUK pikuk kota Medan, jantung ekonomi Sumatera Utara, tak lagi hanya didominasi deru mesin industri dan transaksi di pasar-pasar tradisional. Ada denyut baru yang semakin kencang terasa: denyut digital.

Di tengah lorong-lorong kota hingga kafe-kafe kekinian, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kreatif menggeliat, berselancar di atas gelombang transformasi digital.

Pertanyaannya, sudahkah kita, sebagai pengampu kebijakan dan masyarakat, benar-benar mengoptimalkan potensi raksasa ini sebagai motor penggerak ekonomi urban yang baru dan berkelanjutan?

Mari kita bedah angkanya sejenak.

Ekonomi digital Indonesia sendiri menunjukkan pertumbuhan yang fenomenal.

Laporan Google, Temasek, dan Bain Company (e-Conomy SEA 2024) menyebutkan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai USD 90 miliar pada tahun 2024 dan diperkirakan terus meroket hingga USD 360 miliar pada tahun 2030.

Sumatera Utara, dengan Kota Medan sebagai episentrumnya, jelas tak ingin ketinggalan kereta. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat, pada tahun 2023, sektor informasi dan komunikasi, yang menjadi salah satu pilar ekonomi digital, menunjukkan pertumbuhan impresif sekitar 8,75 persen. Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi yang berada di kisaran 5 persen.

Di sisi lain, UMKM adalah tulang punggung ekonomi kita. Kementerian Koperasi dan UKM RI menyebutkan bahwa UMKM berkontribusi terhadap lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 90 % tenaga kerja.

Di Sumatera Utara, peran UMKM tak kalah vital. Jumlah UMKM di Provinsi Sumatera Utara sendiri menunjukkan ada lebih dari 2,9 juta unit UMKM, dengan mayoritas terkonsentrasi di wilayah perkotaan seperti Medan dan sekitarnya.

Kini, bayangkan jika kedua kekuatan ini – ekonomi digital dan UMKM kreatif – bersinergi secara optimal. Kita tidak hanya berbicara tentang UMKM yang "sekadar" berjualan online. Kita berbicara tentang transformasi model bisnis, penciptaan nilai tambah baru, dan penetrasi pasar yang lebih luas berkat adopsi teknologi digital. UMKM kreatif, yang mencakup subsektor seperti kuliner, fesyen, kriya, aplikasi, game, musik, hingga film, memiliki keunggulan inheren dalam hal inovasi dan adaptasi.

Schumpeter di Era Digital: Inovasi UMKM sebagai Kunci

Ekonom legendaris Joseph Schumpeter, dalam teorinya tentang "creative destruction" (destruksi kreatif), menekankan peran inovasi sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Inovasi, menurut Schumpeter, bukan hanya soal penemuan teknologi baru, tetapi juga cara baru dalam berorganisasi, membuka pasar baru, atau menggunakan sumber daya baru. UMKM kreatif di era digital adalah perwujudan nyata dari teori Schumpeter ini.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved