Opini Online
Mencoba, Mengevaluasi, dan Memperbaiki: Seni Memimpin di Era Digital
Di ruang rapat birokrasi dan korporasi Indonesia, satu kalimat masih sering terdengar: “Kita tunggu kajian lengkap dulu.”
Memperbaiki, Bukan Mempertahankan Ego
Tahap ketiga, memperbaiki, sering kali menjadi yang paling sulit.
Bukan karena teknisnya, tetapi karena egonya.
Banyak kebijakan bertahan bukan karena efektif, melainkan karena gengsi untuk mengakui kekurangan.
Literatur kepemimpinan digital mutakhir menempatkan learning orientation sebagai kompetensi utama pemimpin.
Schwarzmüller dan koleganya (2024) menunjukkan bahwa pemimpin digital yang efektif justru adalah mereka yang secara terbuka mengakui keterbatasan keputusan awal, membangun ruang aman bagi kritik, dan mendorong perbaikan berkelanjutan.
Organisasi yang dipimpin dengan cara ini lebih adaptif dan lebih cepat pulih dari kegagalan.
Pemimpin digital memahami bahwa memperbaiki adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.
Mereka tidak terjebak pada logika “ini sudah keputusan saya”, melainkan bergerak dengan logika “ini harus menjadi keputusan terbaik”.
Revisi kebijakan, penyesuaian strategi, bahkan pembatalan program bukanlah aib, selama dilakukan berdasarkan evaluasi yang jujur.
Budaya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) hanya tumbuh bila organisasi merasa aman untuk berkata jujur. Aman untuk melaporkan masalah. Aman untuk mengusulkan perubahan.
Pemimpin digital menciptakan ruang psikologis itu, bukan dengan slogan, tetapi dengan keteladanan.
Kecepatan sebagai Nilai Strategis
Salah satu pembeda utama kepemimpinan digital adalah cara memandang waktu.
Dalam sistem tradisional, kecepatan sering dikorbankan demi kepatuhan prosedur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Catatan-Aryanto-Tinambunan-soal-Gambir.jpg)