Opini Online

Mencoba, Mengevaluasi, dan Memperbaiki: Seni Memimpin di Era Digital

Di ruang rapat birokrasi dan korporasi Indonesia, satu kalimat masih sering terdengar: “Kita tunggu kajian lengkap dulu.”

Tayang:
Editor: AbdiTumanggor
Dok.Pribadi
Dr. Aryanto Tinambunan, MSi (Dok.Pribadi) 

Dalam sistem digital, kecepatan justru menjadi nilai strategis.

Keputusan yang diambil hari ini, meski belum sempurna, sering kali lebih bernilai daripada keputusan sempurna yang datang terlambat. Bukan berarti kualitas diabaikan. Justru kualitas dibangun secara iteratif, melalui siklus coba, evaluasi, dan perbaiki yang berulang. Pendekatan ini menuntut desentralisasi keputusan.

Pemimpin digital tidak memonopoli otoritas. Mereka memberi ruang eksperimentasi kepada unit dan tim, menetapkan batas yang jelas, serta memastikan mekanisme evaluasi berjalan.

Dengan begitu, organisasi bergerak lincah tanpa kehilangan kendali.

Menuju Kepemimpinan yang Relevan

Di Indonesia, tantangan terbesar kepemimpinan digital bukanlah teknologi, melainkan budaya.

Budaya takut salah, takut disalahkan, dan takut keluar dari pakem masih kuat mengakar.

Filosofi coba, evaluasi, dan perbaiki kerap disalahpahami sebagai ketidaksiapan atau inkonsistensi.

Padahal, riset kepemimpinan kontemporer justru menempatkan agility dan adaptability sebagai kompetensi inti pemimpin masa depan (Yukl et al., 2023; Schwarzmüller et al., 2024).

Transformasi digital sejatinya adalah transformasi mental. Tanpa perubahan cara berpikir pemimpin, teknologi hanya akan menjadi etalase modern dengan praktik lama di baliknya.

Pada akhirnya, kepemimpinan digital bukan tentang aplikasi, platform, atau kecanggihan sistem. Ia tentang cara mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.

Tentang keberanian melangkah tanpa menunggu segalanya jelas. Tentang kerendahan hati untuk belajar dari data dan realitas. Dan tentang kebesaran jiwa untuk memperbaiki arah.

Coba, evaluasi, dan perbaiki bukan sekadar metode kerja. Ia adalah etika kepemimpinan di era digital. 

Etika yang mengutamakan pembelajaran, kecepatan, dan dampak nyata bagi publik. 

Di dunia yang bergerak cepat, pemimpin tidak lagi diukur dari seberapa jarang ia salah, melainkan dari seberapa cepat ia belajar dan memperbaiki diri.

*) Dosen Tidak Tetap Unika Santo Thomas SUMUT, Mantan Kadis Kominfo Pakpak Bharat dan Dairi, ASN Pemprovsu

Sumber: Tribun Medan
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved