Antara Budaya Kerja Keras dan Budaya Ketua
Namun ada satu pelajaran penting yang tampak jelas: sebuah bangsa akan lebih cepat maju ketika kerja keras, disiplin dan kompetensi
Oleh:
Muhammad Riduan Harahap
Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara
PERJALANAN penulis selama beberapa hari di Tiongkok menghadirkan satu kesan yang sangat kuat. Dari pengamatan sederhana, termasuk fakta-fakta sejarah yang dipamerkan di museum-museum Tiongkok, tampak bahwa masyarakatnya memiliki etos kerja dan budaya produktivitas yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pekerja kebersihan jalanan yang mulai bekerja sejak subuh, pegawai kereta cepat yang disiplin, buruh pabrik yang bekerja dengan ritme cepat, hingga para peneliti di universitas dan industri teknologi, semuanya memperlihatkan bahwa kerja keras memperoleh tempat penting dalam struktur sosial mereka.
Di sisi lain, pengalaman tersebut menghadirkan refleksi tentang keadaan di negeri sendiri. Tentu negeri ini juga memiliki jutaan pekerja keras yang luar biasa: petani, guru, nelayan, buruh, dosen, pegawai, pedagang kecil, tenaga kesehatan, dan berbagai profesi lainnya yang bekerja dengan penuh pengorbanan.
Baca juga: Xiangfei dari Kashgar dan Jejak Islam Kara Khanid di Xinjiang
Baca juga: Ketua Yayasan Panca Budi Puji Keberagaman Agama dan Etos Kerja Warga Tiongkok
Namun dalam banyak ruang sosial, penghormatan terhadap jabatan sering kali tampak lebih dominan dibanding penghormatan terhadap profesionalisme dan produktivitas kerja. Di titik inilah perbandingan dengan China menjadi menarik untuk direnungkan, bukan untuk merendahkan bangsa sendiri, melainkan sebagai bahan evaluasi sosial tentang arah budaya yang sedang tumbuh di tengah masyarakat kita.
Penghormatan terhadap Kerja Keras dan Produktivitas
Kemajuan Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir tidak lahir secara tiba-tiba. Setelah reformasi ekonomi pada era Deng Xiaoping sejak akhir 1970-an, negara itu membangun orientasi nasional yang sangat menekankan disiplin, produktivitas, dan pembangunan ekonomi.
Dalam beberapa kota yang penulis datangi, terlihat bagaimana masyarakat menghargai efisiensi dan kerja nyata. Kereta datang tepat waktu dalam hitungan menit. Kawasan industri bekerja hampir tanpa henti.
Pedagang kecil membuka toko sejak pagi dan tetap aktif hingga malam. Di universitas, mahasiswa terlihat memiliki ritme belajar yang serius dan kompetitif. Budaya seperti ini membentuk pola pikir sosial bahwa kemajuan diperoleh melalui kerja, keterampilan, dan hasil nyata.
Hari ini dunia melihat bagaimana Tiongkok berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi terbesar dunia: dari kereta cepat, kendaraan listrik, industri digital, hingga kecerdasan buatan. Semua itu tentu bukan hanya dibangun oleh elite politik, tetapi oleh jutaan pekerja keras, teknisi, peneliti, ilmuwan, dan tenaga profesional yang bekerja secara sistematis dan dihargai.
Bahkan meskipun budaya kerja di Tiongkok kadang dikritik terlalu keras-seperti fenomena “996 culture” di sebagian industri teknologi-fenomena tersebut tetap menunjukkan betapa kuatnya orientasi masyarakat terhadap produktivitas.
Jabatan Simbol Kehormatan Sosial
Sementara itu, di negeri ini-sekali lagi bukan untuk merendahkan bangsa sendiri, melainkan sebagai catatan sosial yang penting direnungkan-dalam banyak situasi status sosial sering kali lebih mudah diperoleh melalui jabatan dibanding kualitas kerja profesional.
Seseorang dianggap “naik kelas” ketika menjadi ketua organisasi, pejabat, pimpinan lembaga, anggota dewan, kepala daerah, atau tokoh tertentu. Bahkan sejak usia muda, sebagian orang sudah diarahkan untuk mengejar posisi struktural.
| Ketua FKUB Sumut Hatta Puji Kerukunan Agama di Tiongkok |
|
|---|
| Takjub Penggunaan Aksara Arab dan Mandarin di Tiongkok |
|
|---|
| Prof Nurhayati Takjub Kebebasan Beragama dan Pembinaan Imam Masjid di Kampus Islam Tiongkok |
|
|---|
| Masjid Dongsi, 670 Tahun Mengawal Kemaslahatan Umat Islam di Beijing |
|
|---|
| Sambut Delegasi Sumatera, Dubes Djauhari Sebut Kerjasama RI-Tiongkok Capai 168,8 Miliar Dolar AS |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Dr-M-Riduan-Harahap.jpg)