Antara Budaya Kerja Keras dan Budaya Ketua
Namun ada satu pelajaran penting yang tampak jelas: sebuah bangsa akan lebih cepat maju ketika kerja keras, disiplin dan kompetensi
Dalam situasi seperti itu, motivasi untuk menjadi pekerja terbaik perlahan melemah. Orang akhirnya tidak lagi begitu tertarik dan senang dengan pekerjaannya, tetapi lebih tertarik mencari jalan cepat memperoleh posisi atau jabatan tertentu, yang kadang mengandalkan kemampuan “menjilat” atau cara-cara lain yang mengangkangi kompetensi profesional dan kerja keras.
Di sinilah budaya produktivitas sering kalah oleh budaya posisi dan jabatan. Masyarakat menjadi lebih tertarik membangun citra dan budaya "jilat menjilat" dibanding mempersembahkan kompetensi kerja keras yang produktif. Energi sosial habis dalam perebutan posisi, kuasa, dan pengaruh, bukan dalam kompetisi kerja dan karya produktif.
Tulisan ini tentu bukan upaya mengagungkan Tiongkok ataupun merendahkan negeri sendiri. Namun ada satu pelajaran penting yang tampak jelas: sebuah bangsa akan lebih cepat maju ketika kerja keras, disiplin, kompetensi, dan produktivitas memperoleh penghormatan sosial yang tinggi.
Kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang ingin memimpin atau menjadi pejabat, tetapi yang jauh lebih penting adalah banyaknya orang yang mau bekerja serius di bidangnya masing-masing.
Negeri ini memerlukan lebih banyak ilmuwan, peneliti, guru berkualitas, teknisi hebat, pengusaha inovatif, programmer, tenaga profesional, dan para pekerja keras yang unggul yang menghasilkan karya nyata.
Anak muda jangan hanya didorong bercita-cita menjadi “ketua”, tetapi juga menjadi ahli dan pekerja keras yang produktif. Karena pada akhirnya, bangsa besar bukan hanya dibangun oleh orang-orang yang ingin memegang jabatan, melainkan oleh mereka yang mau bekerja, berkarya, disiplin, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. (*)
| Ketua FKUB Sumut Hatta Puji Kerukunan Agama di Tiongkok |
|
|---|
| Takjub Penggunaan Aksara Arab dan Mandarin di Tiongkok |
|
|---|
| Prof Nurhayati Takjub Kebebasan Beragama dan Pembinaan Imam Masjid di Kampus Islam Tiongkok |
|
|---|
| Masjid Dongsi, 670 Tahun Mengawal Kemaslahatan Umat Islam di Beijing |
|
|---|
| Sambut Delegasi Sumatera, Dubes Djauhari Sebut Kerjasama RI-Tiongkok Capai 168,8 Miliar Dolar AS |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Dr-M-Riduan-Harahap.jpg)