Sketsa
Lebaran Haji di Paris
Ocik Nensi berseri-seri. Ditentengnya tas plastik berisi daging kurban, lalu dengan cekatan dipindahkannya ke baskom.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
SKETSA
Ocik Nensi berseri-seri. Ditentengnya tas plastik berisi daging kurban, lalu dengan cekatan dipindahkannya ke baskom.
"Kelen nanti makan di sini, ya. Aku mau bikin gule. Kelen belik aja nasiknya," katanya pada Leman Dogol, Idam
Marley, Jontra Polta, dan Riki Rikardo yang sedang duduk menonton Tok Awang dan Ucok Morning bermain catur.
"Aimak, seddep! Cair jugak Ocik, ya," sahut Idam Marley.
"Sapi Pak Prabowo, Cik?" timpal Leman Dogol.
Ocik Nensi menepiskan tangan. "Syukurnya nggak. Kalok sapi Bapak itu agak ngeri-ngeri sedap awak terima dagingnya. Gini-gini, ngerti jugak awak sikit-sikit hukum agama."
"Kenapa, Cik? Menyalah, ya? Haram?" tanya Riki Rikardo.
"Eh, nggak ada kubilang haram, ya, Ki. Gak ada hak awak bilang haram gak haram. Ada yang lebih punya hak. Yang kompeten. Cumak, ya, setahu awak, yang namanya kurban itu dari harta pribadi. Kalok kambing satu ekor satu orang, kalok lembu bisa tujuh orang atau lebih. Nah, kalok beliknya gak pakek uang pribadi, tapi pakek uang negara, gak ngerti awak cemana itu hukumnya."
"Yang bingung itu pas akad sama penyembelihannya," sambung Ucok Morning sembari melangkahkan Kuda mengancam pertahanan Tok Awang dari sisi benteng kiri. Ucok Morning sedikit berada di atas angin.
"Ya, kan, Tok? tanyanya pada Tok Awang pula.
" Yoi."
"Bingung cemana, Ketua?" tanya Riki Rikardo.
"Awak agak kurang pande kalok menjelas-jelaskan yang kek gini. Cak, lah, dulu Tok Awang mewakili."
"Bah, cemana ketua ini. Ketua yang menyimpulkan awak pulak yang menjelaskan."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Lebaran-Haji-di-Paris_Sketsa_.jpg)