Sketsa

Lebaran Haji di Paris

Ocik Nensi berseri-seri. Ditentengnya tas plastik berisi daging kurban, lalu dengan cekatan dipindahkannya ke baskom.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Ilustration generated by AI
Lebaran Haji di Paris. 

"Sugiono?"

"Bintang film Jepang?"

"Bukan! Menlu!"

"Eh, iya? Lupa aku nama menteri itu. Tapi, serius, Mamak, belio memang ke Paris untuk urusan ini?"

"Mana aku tahu. Kata Sugiono kek gitu. Persisnya, kerjasama sains, teknologi, teknik,  sama matematika. Kenapa rupanya?"

"STEM?"

"STEM?"

"Iya, Sains, Teknologi, Teknik atau Engineering, dan Matematika. Istilahnya disingkat STEM."

"Oh gitu. Baru tahu aku. Kenapa rupanya, Ki? Ada yang salah?"

"Ini sama kebalik-balik dengan Lebaran Haji di Paris tadi. Kerjasama STEM, kok, ke Prancis? Ke China, lah. Atau ke India, ke Korea, ke Amerika, atau yang the best-nya di Erop, Jerman. Atau paling nggak, kalok mau hemat biaya mumpung dolar lagi tinggi, yang dekat-dekat aja, ke Singapura, atau Australia."

"Lagian, ya, kok tinggi kali, lah, cita-cita mau nguatkan STEM," sergah Leman Dogol. "Gaji guru aja cumak naik tiga detik. Terbayang aku mukak Pak Guru kemarin. Sedih kali. Belum soal sekolah rusak, ada anak bunuh diri karena gak bisa belik buku. Parah! Belum soal Em Be Ge. Belum lagi..."

"Jadi ngapain, lah, Bapak itu ke Prancis?" tanya Jontra Polta.

Pertanyaan Jon tak segera berjawab. Semua terdiam. Sementara, di dalam dan di luar kedai, kehidupan terus berjalan. Ucok Morning akhirnya menumbangkan rajanya, roket Israel menghantam Lebanon, virus Ebola menyerang Kongo, NASA berencana mendirikan bangunan permanen di bulan, harga emas naik, antre mengular di SPBU, listrik mati, sirene polisi. 

Tiba-tiba, dari balik steling melesat suara Ocik Nensi

"Mungkin ada yang ulang tahun lagi."

Kali ini, tidak ada yang tertawa. (t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved