Sketsa

Lebaran Haji di Paris

Ocik Nensi berseri-seri. Ditentengnya tas plastik berisi daging kurban, lalu dengan cekatan dipindahkannya ke baskom.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Ilustration generated by AI
Lebaran Haji di Paris. 

"Alah, udah, lah. Mainkan."

"Hmmm, persoalannya aku kira lebih ke nawaitu-nya cemana. Misalnya, pas akad ijab kurban, panitianya bilang apa? 'Saya terima kurban satu ekor sapi atas nama A Pe Be En?' Trus pas motongnya, pas mo nyembelih, makin bingung jadinya. 'Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, kurban ini dari-Mu dan untuk-Mu. Terimalah kurban dari seluruh rakyat Indonesia'. Gitu?"

Tawa berderai di Kedai Tok Awang. Ucok Morning dan Leman Dogol tertawa paling keras. Leman sampai tersedak dan terbatuk-batuk. Ia buru-buru lari ke balik steling, mengambil gelas, menuangkan air lalu meneguknya cepat.

"Tapi, Tok, kira-kira ada nggak panitia kurban yang berani ngomong kek gitu?" tanyanya kemudian di sela batuknya yang belum betul-betul reda. "Kalok gak salah ada lebih seribu sapi, kan?" 

"Kujamin gak ada."

"Kenapa, Tok?"

"Masih kau tanyak pulak kenapa? Mau kau kenak cokok? Apa lagi, ykalok pas ngomong gitu divideokan, trus viral, selesai kau."

Tawa berderai lagi. Namun kali ini nadanya kedengaran sedikit sumbang. Lantas, hening. Tidak ada yang bicara. Hanya buah-buah catur yang bergerak, saling ancam, saling menghabisi. Keadaan mulai berbalik. Blunder fatal Ucok Morning yang melayani pertukaran kuda dan gajah membuat Tok Awang lebih leluasa menekan.

"Eh, bay de we, Bapak itu ke luar negeri lagi, ya?" pertanyaan Idam Marley memecah keheningan.

"Iya, ke Prancis," sahut Jontra Polta yang sedari tadi diam. 

"Wah, sering betul Bapak itu ke sana. Ada kurasa empat kali. Ngapain lagi, Mak?" Riki Rikardo melempar tanya.

"Lebaran Haji. Salat Idul Adha di Paris."

"Lah, udah tebalek-balek ini namanya. Lebaran Haji, kok, ke Paris? Ke Mekkah, lah! Jelas lebih afdol. Atau paling nggak ke Aceh. Rame di sana kalok Lebaran Haji. Lebih rame dari Idul Fitri."

"Dengar-dengar aku, ya, Ki, belio ke sana untuk jajaki kerjasama bidang pendidikan," ucap Idam Marley menimpali.

"Kata siapa?"

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved