Catatan Piala Dunia
Mimpi-mimpi Santo Messi
Messi sudah selesai dengan sepak bola. Jika didekatkan dengan kisah Tiongkok, ‘Xiyouji’, atau ‘Perjalanan ke Barat’, ia telah menyetarai Biksu Tang
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
SESUNGGUHNYA, Lionel Messi sudah selesai dengan sepak bola. Jika didekatkan dengan kisah klasik Tiongkok, ‘Xiyouji’, atau ‘Perjalanan ke Barat’, ia telah menyetarai Biksu Tang Sanzang. Ia telah sampai ke tujuan dan “mendapatkan kitab suci”.
Diego Armando Maradona boleh bergelimang pujian di Argentina. Para pengikutnya sampai mendirikan gereja dan mengangkat dia sebagai tuhan. Namun Maradona gantung sepatu dengan sejumlah gelar yang belum diraih. Dia belum pernah mengangkat tropi Copa America, supremasi tertinggi sepak bola Amerika Latin. Di level klub, dia juga belum pernah menjadi kampiun Liga (dulu ‘Piala’) Champions. Pencapaian tertingginya adalah UEFA Cup bersama Napoli di tahun 1989.
Pele? Juara Piala Dunia tiga kali tanpa Copa America. Pele hanya ikut dalam satu edisi Copa America yang digelar di Argentina pada 1959, satu tahun setelah membantu Brasil memenangkan Piala Dunia 1958. Pele menjadi top skor dengan delapan gol tapi Brasil hanya finish di peringkat dua. Di lain sisi, Pele tidak pernah menginjakkan kakinya di Eropa. Dari Santos dia menyeberang ke New York Cosmos, dan oleh sebab itu, sudah barang tentu, tak pernah mencecap gemerlap panggung Liga Champions.
Messi, dalam hal ini, jauh lebih lengkap. Dia juara Piala Dunia (2022). Dia juara Copa America (2021 dan 2024). Dia juga seorang Olympian, peraih medali emas Olimpiade di tahun 2008. Di level klub, Messi mengangkat tropi Liga Champions empat kali bersama FC Barcelona. Pendek kata, sebenar-benarnya lengkap, dan oleh sebab itu memang tidak ada lagi yang perlu ia buktikan. Ia adalah sang Greatest of All Time. The GOAT!
Dia juga kerap disebut ‘Alien’, mahluk dari luar peradaban bumi. Di Argentina, jangan sesekali bicara buruk tentangnya, karena kedudukan Messi sudah disejajarkan dengan orang suci. Gambar-gambarnya, dalam rupa ‘Santo’; mengenakan jubah, kolar, dengan warna-warna liturgis, bertebaran di mana-mana, dari dinding pertokoan sampai dinding gereja.
Maka memang, semestinya, Messi sudah bisa menepi. Sudah bisa duduk ongkang-ongkang, tampil berdasi dengan jas rapi sebagai pundit di televisi. Rasa-rasanya, jika keluar dari mulut Messi, kritik setajam apa pun tidak akan ada yang berani menampik. Bagaimana tidak? Dia GOAT yang Santo. Terbaik, sekaligus “suci” pula.
Kita tahu Messi tidak melakukannya. Dia memang sudah menjauh dari hiruk-pikuk sepak bola Eropa. Dia pergi ke Amerika Serikat, tapi bukan untuk menjadi turis, melainkan untuk sebenar-benarnya bermain sepak bola. Keberadaannya membuat Inter Miami, klub yang sebelumnya tidak terlalu gemilang di Major League Soccer (MLS), berubah jadi menakutkan. Bersama “gerbong” yang ia bawa; Luis Suarez, Rodrigo de Paul, Sergio Busquets, dan Jordi Alba, Messi mengantarkan Miami menjuarai League Cup 2023, dan MLS Cup 2025.
Dalam usia yang akan memasuki angka 39 pada 24 Juni nanti, Messi tetap menjadi orang terpenting di lapangan Miami. Tetap jadi metronome, dan oleh sebab itu, Lionel Scaloni, Pelatih Kepala Tim Nasional Argentina terus memanggilnya tanpa keraguan sedikit pun.
Sampai di sini mencuat pertanyaan. Di saat sebaya-sebayanya sudah banyak yang memilih pensiun dan beralih profesi, entah jadi pundit, jadi pelatih, entah pula jadi pemilik klub, kenapa Messi memilih jalan yang berkebalikan? Untuk apa dia masih berlari-lari di lapangan? Untuk apa dia masih mencetak gol? Demi apa?
Jawabannya adalah mimpi. Saat menerima penghargaan Ballon d’Or-nya yang keenam di Theatre du Chatelet, Paris, Prancis, 2 Desember 2019, dalam pidato kemenangannya, Messi melontar kalimat yang barangkali akan dikenang untuk waktu yang lama. Messi bilang, masa lalu, mengajarkannya untuk bermimpi, dan terus bermimpi, dan terus mengupayakan agar mimpi-mimpi itu tercapai. Mimpi yang tercapai, katanya, seperti film dengan akhir yang bahagia.
Sebelum diakui sebagai GOAT, sebelum dipuja sebagai santo, Lionel Messi justru pernah diejek sebagai Sisyphus, tokoh mitologi Yunani yang diriwayatkan harus menjalani takdir untuk hidup dalam kesia-siaan. Sebagai seorang raja yang cerdik, berkuasa, dan kaya raya, yang kemudian khilaf melawan otoritas dewa, Sisyphus mendapatkan –dan mesti menerima– hukuman absurd menjurus konyol yang mesti ia tanggungkan selama hidup: mendorong batu ke puncak bukit hanya untuk menyaksikannya menggelinding kembali.
Messi diibaratkan Sisyphus. Persisnya, menerima kutukan seperti Sisyphus. Kerja kerasnya berkali-kali mengantarkan Argentina ke partai puncak hanya untuk berakhir dengan kegagalan. Copa America 2007, 2015, dan 2016. Di edisi 2019, mereka malah rontok di semi final, kalah dari Brasil. Sementara di ajang Piala Dunia, Messi yang sudah memperkuat Argentina sejak Jerman 2006, juga dihadapkan pada kenyataan serupa. Ia dan Argentina mencapai final di edisi 2014 hanya untuk kembali meninggalkan lapangan dengan kepala tertunduk dan derai air mata.
Dalam ‘Le Mythe de Sisyphe’ (Mitos Sisipus), filsuf Albert Camus memapar, setelah segenap upayanya yang gagal, Sisyphus mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Sisyphus sadar dia mustahil berbahagia hingga memutuskan membayangkan kebahagiaan itu dalam kepala.
Messi tidak seperti Sisyphus. Dia menolak menyerah dan bersikukuh tetap menjaga mimpi yang ia pelihara sejak masih berwujud bocah bertubuh mungil dan ringkih lantaran didiagnosis mengidap Growth Hormone Deficiency (GHD) atau defisiensi hormon pertumbuhan. Lantaran gangguan ini, tingginya saat dewasa diperkirakan tidak akan lebih dari 130 sentimeter.
Kita sudah sama-sama tahu bagaimana kisah selanjutnya. Seperti akhir film yang berbahagia, Messi lepas sepenuhnya dari kutukan Sisyphus, lalu menjelma GOAT sekaligus Santo. Namun dia memang belum berhenti juga. Dia datang lagi di Piala Dunia 2026. Sekali lagi, bukan sebagai pelengkap. Bukan, katakanlah, sebagai senior yang dihadirkan melulu untuk memberikan semacam petuah dan motivasi di ruang ganti. Melainkan betul-betul sebagai seorang bos, pemimpin di dalam dan di luar lapangan.
Tentu saja, pada awalnya, Messi diragukan. Betapa pun persaingan di MLS tidak sesengit liga-liga Eropa, dan karena terlanjur terbiasa bermain tanpa “gangguan”, sentuhan Messi dikhawatirkan hilang. Padahal di lain sisi, sepak bola di bagian lain dunia telah jauh berkembang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Lionel-Messi_Lionel-Messi-di-Piala-Dunia-2026_.jpg)