Catatan Piala Dunia
Mimpi-mimpi Santo Messi
Messi sudah selesai dengan sepak bola. Jika didekatkan dengan kisah Tiongkok, ‘Xiyouji’, atau ‘Perjalanan ke Barat’, ia telah menyetarai Biksu Tang
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Kekhawatiran ini tak terjadi. Messi tetaplah Messi. Aljazair, lawan pertama Argentina, di hadapan lebih dari 75 ribu pasang mata di Stadion Arrowhead, Kansas City, juga jutaan pasang mata lainnya di seantero Argentina dan seluruh dunia, dibikin tak berdaya. Messi menunjukkan betapa dirinya adalah virtuoso. Dia mengendalikan tempo. Dia meracik irama. Dia konduktor, dan di saat bersamaan, ternyata juga eksekutor. Messi masih buas. Tiga gol lahir darinya.
Apakah Lionel Messi bermimpi untuk membaca Argentina back to back Piala Dunia? Sejauh ini, sepanjang sejarah, baru dua negara yang bisa melakukannya, Italia di tahun 1934 dan 1938, dan Brasil pada 1958 dan 1962. Dalam wawancara usai laga, pertanyaan ini dilontarkan, dan Messi, sebagaimana ia selama ini, hanya tersenyum, lalu menjawab singkat sebelum beranjak pergi. “Saya beruntung bisa mencapai semua mimpi, bahkan lebih dari yang pernah saya bayangkan. Ini baru pertandingan pertama, saya mencoba menikmatinya.” (t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Lionel-Messi_Lionel-Messi-di-Piala-Dunia-2026_.jpg)