Bersama RISE, Melampaui Batas Kemampuan di Tengah Keterbatasan

Hidup di tengah keterbatasan tak membuat para penyandang disabilitas di Medan untuk menyerah pada keadaan dan keterbatasan.

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
THAMRIN Simarmata (depan, berkacamata) dan istrinya, Restiana Manullang (belakang) saat mengerjakan pesanan jahitan di rumah mereka, di kawasan Simalingkar B, Selasa (23/10/2018). Thamrin merupakan penyandang disabilitas penerima manfaat program RISE di Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Hidup di tengah keterbatasan tak membuat para penyandang disabilitas di Medan untuk menyerah pada keadaan. Sebagai wirausahawan kecil, mereka justru mampu melampaui batasan kemampuan yang mereka miliki sehingga tampil sebagai seorang wirausaha yang kreatif dan lebih mandiri. Program pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas dari program CSR Maybank menjadi pembuka jalan untuk mereka berjuang melawan keterbatasan. Bagaimana ceritanya?

***

Senja turun perlahan di kawasan permukiman yang cukup padat penduduk di kecamatan Simalingkar B, kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (23/10/2018). Suara klakson dan hembusan asap dari knalpot angkutan kota (angkot) meningkahi aktivitas warga sekitar. Suasana permukiman yang semula sudah riuh pun bertambah riuh.

Thamrin Simarmata (42) mengambil mancis dan rokoknya yang terletak di atas penutup mesin jahitnya. Dinyalakan dan dihisapnya perlahan. Sesekali, tangan kanannya yang memegang rokok ditekuk sehingga siku tangannya menempel di meja mesin jahit. Sembari mengisap rokok, ia perhatikan dua anak angkatnya yang sedang asyik bermain kelereng bersama dua temannya di halaman depan rumahnya yang sekaligus menjadi tempat usaha menjahitnya.

Thamrin dapat memperhatikan dengan jelas anak-anak yang bermain di hadapannya, karena ruang menjahitnya berada di bagian depan rumah. Rumah Thamrin berbentuk persegi memanjang. Ukurannya sekitar 4 x 16 meter dan disekat-sekat menjadi ruangan menjahit, kamar, dan dapur.

“Sudah hampir jam enam sore (18.00 WIB). Biasanya jam segini, saya sudah istirahat, sudah tutup kios. Tapi akhir-akhir ini tidak bisa lagi. Orderan jahitan lumayan banyak. Terkadang saya baru bisa istirahat pukul sepuluh malam (22.00 WIB),” kata Thamrin kepada Tribun-Medan.com, Selasa (23/10/2018).

Thamrin tak sendirian istirahat hingga selarut itu, Istrinya, Restiana Manullang juga seorang penjahit harus istirahat ketika tetangga-tetangganya sudah tidur satu atau dua jam lebih awal. “Hanya pintu rumah saja yang kami tutup. Kalau di dalam rumah, kami masih tetap menjahit menyelesaikan orderan,” kata Restiana.

Seketika, aktivitas merokok Thamrin berhenti, saat seorang perempuan setengah baya datang. Si perempuan bermaksud membeli es batu. Thamrin bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. Langkahnya harus perlahan karena dirinya merupakan penyandang disabilitas tuna daksa (polio) di kaki sebelah kanan.

Sesekali tangannya memegang kursi dan dinding kiosnya sebagai tumpuan ke arah dapur. Tak sampai semenit, pria penyuka sepakbola ini sudah kembali ke ruang depan dan membawa sebuah bungkusan berisi dua plastik es batu masing-masing ukuran satu liter. Thamrin memberikannya kepada si pemesan.

“Menjual es batu adalah usaha sampingan saya selain menjahit. Sudah berjalan hampir enam bulan,” lanjut Thamrin.

Thamrin menceritakan, awalnya, dia dan istrinya hanyalah menekuni usaha menjahit. Namun, program Reach Independence &  Sustainable Entrepreneurship (RISE) yang dilaksanakan Maybank melalui Maybank Foundation telah memberinya semangat baru tentang bagaimana mengembangkan wirausaha meskipun dalam keterbatasan.

Thamrin adalah seorang penyandang disabilitas tuna daksa di bagian kaki (polio). Sama halnya dengan Thamrin, Restiana juga penyandang disabilitas tuna daksa di bagian kaki dan berpofesi sebagai penjahit. Bedanya, Restiana harus menggunakan kursi roda untuk mendukung aktivitasnya.

“Saya kena polio sejak umur 12 tahun. Waktu itu saya sedang bermain-main dan kemudian terjatuh. Ada cedera di kaki kanan saya. Dulu berpikir hanya cedera biasa saja, jadi perawatannya juga tidak serius. Tapi setelah itu, badan saya panas tinggi. Sempat dibawa ke Posyandu untuk mendapat perawatan dan berangsur pulih. Tetapi, setelah itu, kaki kanan saya kehilangan kemampuan untuk berjalan. Saya akhirnya divonis kena polio,” kata Thamrin.

Menginjak remaja dan dengan segala keterbatasan yang ada, Thamrin pun menjadi tukang servis elektronik sejak tahun 1998 hingga tahun 2003. Seiring waktu, Thamrin mengaku bertemu dengan banyak orang yang terus membuatnya bersemangat menjalani hidup meskipun kemampuannya terbatas karena menjadi penyandang disabilitas. “Selain orangtua, saya bertemu banyak orang. Mereka terus menyemangati saya untuk berkarya dan mendorong saya membuktikan kepada masyarakat bahwa saya juga bisa sukses dan tidak memberatkan orang lain meskipun dengan segala keterbatasan,” katanya.

Di tahun 2003, kata Thamrin, dirinya memutuskan untuk mengikuti pelatihan menjahit yang diselenggarakan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara. Pelatihan inilah yang titik balik kehidupan Thamrin hingg saat ini. Setelah berlatih beberapa bulan, Thamrin banting setir, dari seorang tukang servis elektronik menjadi seorang penjahit. Tiga tahun kemudian, atau tahun 2006, Thamrin bertemu dengan Restiana. Keduanya menikah dan sepakat mendirikan “Talenta Taylor” di kediaman mereka di Jl. Pintu Air No. 349 Simalingkar B, Medan sejak tahun 2006. “Sebenarnya Resti yang terlebih dahulu menekuni usaha menjahit. Saya banyak belajar juga dari dia,” kata Thamrin.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved