Bersama RISE, Melampaui Batas Kemampuan di Tengah Keterbatasan

Hidup di tengah keterbatasan tak membuat para penyandang disabilitas di Medan untuk menyerah pada keadaan dan keterbatasan.

Bersama RISE, Melampaui Batas Kemampuan di Tengah Keterbatasan
TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
THAMRIN Simarmata (depan, berkacamata) dan istrinya, Restiana Manullang (belakang) saat mengerjakan pesanan jahitan di rumah mereka, di kawasan Simalingkar B, Selasa (23/10/2018). Thamrin merupakan penyandang disabilitas penerima manfaat program RISE di Medan. 

Thamrin menceritakan, awalnya, dia dan istrinya hanyalah menekuni usaha menjahit. Namun, program Reach Independence &  Sustainable Entrepreneurship (RISE) yang dilaksanakan Maybank melalui Maybank Foundation telah memberinya semangat baru tentang bagaimana mengembangkan wirausaha meskipun dalam keterbatasan.

Thamrin adalah seorang penyandang disabilitas tuna daksa di bagian kaki (polio). Sama halnya dengan Thamrin, Restiana juga penyandang disabilitas tuna daksa di bagian kaki dan berpofesi sebagai penjahit. Bedanya, Restiana harus menggunakan kursi roda untuk mendukung aktivitasnya.

“Saya kena polio sejak umur 12 tahun. Waktu itu saya sedang bermain-main dan kemudian terjatuh. Ada cedera di kaki kanan saya. Dulu berpikir hanya cedera biasa saja, jadi perawatannya juga tidak serius. Tapi setelah itu, badan saya panas tinggi. Sempat dibawa ke Posyandu untuk mendapat perawatan dan berangsur pulih. Tetapi, setelah itu, kaki kanan saya kehilangan kemampuan untuk berjalan. Saya akhirnya divonis kena polio,” kata Thamrin.

Menginjak remaja dan dengan segala keterbatasan yang ada, Thamrin pun menjadi tukang servis elektronik sejak tahun 1998 hingga tahun 2003. Seiring waktu, Thamrin mengaku bertemu dengan banyak orang yang terus membuatnya bersemangat menjalani hidup meskipun kemampuannya terbatas karena menjadi penyandang disabilitas. “Selain orangtua, saya bertemu banyak orang. Mereka terus menyemangati saya untuk berkarya dan mendorong saya membuktikan kepada masyarakat bahwa saya juga bisa sukses dan tidak memberatkan orang lain meskipun dengan segala keterbatasan,” katanya.

Di tahun 2003, kata Thamrin, dirinya memutuskan untuk mengikuti pelatihan menjahit yang diselenggarakan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara. Pelatihan inilah yang titik balik kehidupan Thamrin hingg saat ini. Setelah berlatih beberapa bulan, Thamrin banting setir, dari seorang tukang servis elektronik menjadi seorang penjahit. Tiga tahun kemudian, atau tahun 2006, Thamrin bertemu dengan Restiana. Keduanya menikah dan sepakat mendirikan “Talenta Taylor” di kediaman mereka di Jl. Pintu Air No. 349 Simalingkar B, Medan sejak tahun 2006. “Sebenarnya Resti yang terlebih dahulu menekuni usaha menjahit. Saya banyak belajar juga dari dia,” kata Thamrin.

Thamrin bercerita, selama belasan tahun menekuni usaha menjahit bersama istrinya, mereka menjalankan prinsip kewirausahaan dengan standart saja. Arti standart di sini adalah, mereka menunggu pelanggan datang ke kios jahitan, kemudian mengerjakan jahitan sesuai dengan permintaan pelanggan. Setelah jahitan selesai dalam beberapa hari, pelanggan pun datang kembali mengambil jahitan. “Belasan tahun seperti itu. Kami merasa tidak kreatif. Tapi maklum juga. Keterbatasan fisik membuat kami tidak bisa melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar kemampuan utama kami sebagai penjahit,” ujar Thamrin.

Namun, keterbatasan Thamrin sedikit demi sedikit mulai terpecahkan, setelah dirinya ikut dalam program Reach Independence &  Sustainable Entrepreneurship (RISE) Maybank. Program ini merupakan program pembinaan kewirausahaan (entrepreneur mentorship) dan keuangan kepada para penyandang disabilitas.  “Kebetulan saya ikut organisasi Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sumut. Dari pengurus organisasi saya dapat informasi kalau Maybank Foundation dan PT Maybank Indonesia melaksanakan pelatihan kewirausahaan bagi penyandang disabilitas. Saya tertarik dan mendaftar. Saya ikut pelatihan selama tiga hari tanggal 9-11 April 2018,” katanya.

Thamrin menceritakan, semula dirinya berpikir bahwa pelatihan kewirausahaan yang dia ikuti hanya pelatihan yang bersifat teori saja. Pembicara menyampaikan ceramah tentang kewirausahaan, lalu peserta bertanya. Ternyata tidak seperti itu. Thamrin mengatakan, pelatihan yang dia ikuti telah membuka wawasannya tentang bagaimana wirausaha dilaksanakan secara kreatif dan profesional. Wirausaha yang kreatif dan profesional inipun tak harus dijalankan oleh orang yang normal. Tetapi siapapun dapat menjalankannya, termasuk penyandang disabilitas seperti dirinya.

Menurut Thamrin, dalam pelatihan tersebut, dirinya mendapatkan dua hal. Hal pertama adalah pengetahuan tentang manajemen usaha. Dalam hal ini, dirinya dan para peserta pelatihan mendapat pelatihan tentang cara mengembangkan usaha pokok menjahit  misalnya dengan memberikan kursus menjahit, mempromosikan produk-produk jahitan lewat media sosial, membuat penawaran penjahitan pakaian dinas kepada pihak pemerintah dan swasta, membuat pembukuan usaha menjahit, dan menambah usaha lain selain usaha jahitan. “Terus terang, semula saya belum berpikir untuk sampai ke sini. Tetapi ternyata bisa dilaksanakan,” ujar Thamrin.

Hal kedua yang didapatkan Thamrin adalah motivasi dari para pembicara untuk tidak menyerah pada keterbatasan. “Kami diajak untuk optimistis. Kemampuan yang kami miliki saat ini, sebenarnya bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan usaha menjahit kami,” katanya.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved