Breaking News:

Bersama RISE, Melampaui Batas Kemampuan di Tengah Keterbatasan

Hidup di tengah keterbatasan tak membuat para penyandang disabilitas di Medan untuk menyerah pada keadaan dan keterbatasan.

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
THAMRIN Simarmata (depan, berkacamata) dan istrinya, Restiana Manullang (belakang) saat mengerjakan pesanan jahitan di rumah mereka, di kawasan Simalingkar B, Selasa (23/10/2018). Thamrin merupakan penyandang disabilitas penerima manfaat program RISE di Medan. 

Di tahun 2003, kata Thamrin, dirinya memutuskan untuk mengikuti pelatihan menjahit yang diselenggarakan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara. Pelatihan inilah yang titik balik kehidupan Thamrin hingg saat ini. Setelah berlatih beberapa bulan, Thamrin banting setir, dari seorang tukang servis elektronik menjadi seorang penjahit. Tiga tahun kemudian, atau tahun 2006, Thamrin bertemu dengan Restiana. Keduanya menikah dan sepakat mendirikan “Talenta Taylor” di kediaman mereka di Jl. Pintu Air No. 349 Simalingkar B, Medan sejak tahun 2006. “Sebenarnya Resti yang terlebih dahulu menekuni usaha menjahit. Saya banyak belajar juga dari dia,” kata Thamrin.

Thamrin bercerita, selama belasan tahun menekuni usaha menjahit bersama istrinya, mereka menjalankan prinsip kewirausahaan dengan standart saja. Arti standart di sini adalah, mereka menunggu pelanggan datang ke kios jahitan, kemudian mengerjakan jahitan sesuai dengan permintaan pelanggan. Setelah jahitan selesai dalam beberapa hari, pelanggan pun datang kembali mengambil jahitan. “Belasan tahun seperti itu. Kami merasa tidak kreatif. Tapi maklum juga. Keterbatasan fisik membuat kami tidak bisa melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar kemampuan utama kami sebagai penjahit,” ujar Thamrin.

Namun, keterbatasan Thamrin sedikit demi sedikit mulai terpecahkan, setelah dirinya ikut dalam program Reach Independence &  Sustainable Entrepreneurship (RISE) Maybank. Program ini merupakan program pembinaan kewirausahaan (entrepreneur mentorship) dan keuangan kepada para penyandang disabilitas.  “Kebetulan saya ikut organisasi Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sumut. Dari pengurus organisasi saya dapat informasi kalau Maybank Foundation dan PT Maybank Indonesia melaksanakan pelatihan kewirausahaan bagi penyandang disabilitas. Saya tertarik dan mendaftar. Saya ikut pelatihan selama tiga hari tanggal 9-11 April 2018,” katanya.

Thamrin menceritakan, semula dirinya berpikir bahwa pelatihan kewirausahaan yang dia ikuti hanya pelatihan yang bersifat teori saja. Pembicara menyampaikan ceramah tentang kewirausahaan, lalu peserta bertanya. Ternyata tidak seperti itu. Thamrin mengatakan, pelatihan yang dia ikuti telah membuka wawasannya tentang bagaimana wirausaha dilaksanakan secara kreatif dan profesional. Wirausaha yang kreatif dan profesional inipun tak harus dijalankan oleh orang yang normal. Tetapi siapapun dapat menjalankannya, termasuk penyandang disabilitas seperti dirinya.

Menurut Thamrin, dalam pelatihan tersebut, dirinya mendapatkan dua hal. Hal pertama adalah pengetahuan tentang manajemen usaha. Dalam hal ini, dirinya dan para peserta pelatihan mendapat pelatihan tentang cara mengembangkan usaha pokok menjahit  misalnya dengan memberikan kursus menjahit, mempromosikan produk-produk jahitan lewat media sosial, membuat penawaran penjahitan pakaian dinas kepada pihak pemerintah dan swasta, membuat pembukuan usaha menjahit, dan menambah usaha lain selain usaha jahitan. “Terus terang, semula saya belum berpikir untuk sampai ke sini. Tetapi ternyata bisa dilaksanakan,” ujar Thamrin.

Hal kedua yang didapatkan Thamrin adalah motivasi dari para pembicara untuk tidak menyerah pada keterbatasan. “Kami diajak untuk optimistis. Kemampuan yang kami miliki saat ini, sebenarnya bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan usaha menjahit kami,” katanya.

Sepulang dari pelatihan, kata Thamrin, dia dan istrinya pun perlahan-lahan menerapkan apa yang didapat selama di pelatihan. Karena sudah memiliki lemari es, maka merekapun memutuskan untuk berjualan es batu. Mereka menjual seharga Rp 2.000 per bungkus dengan berat satu liter. Dalam sehari, Thamrin mampu menjual minimal 10 bungkus es batu. “Hasilnya dari es batu lumayan untuk membayar listrik rumah dan jajan anak-anak,” kata Thamrin, tersenyum.

Tak hanya menekuni usaha jual es batu. Restiana yang sejak awal sudah mempunyai akun facebook pun memanfaatkan media sosial tersebut untuk mempromosikan hasil jahitannya. “Istri saya belum ikut pelatihan tersebut. Tapi karena di sana (pelatihan), saya sudah diajari promosi lewat media sosial yang efektif, saya pun bilang ke istri biar sesekali promosi di media sosial,” lanjut Thamrin.

Hampir enam melakukan perubahan sesuai dengan apa yang didapatkan dalam pelatihan, Thamrin mengakui usahanya mengalami peningkatan. Pesanan jahitan bertambah. Thamrin dan istrinya yang biasanya sudah bisa istirahat menjelang maghrib, kini tak bisa lagi. “Paling cepat pukul sepuluh malam, khususnya kalau ada pesanan dalam jumlah lumayan besar,” katanya.

Semakin berkembangnya usaha pokok menjahit dan dibukanya usaha lain dengan menjual es batu, berdampak kepada pendapatan usaha menjahit Thamrin. “Rata-rata pendapatan per bulan sebelum mengikuti program RISE sekitar Rp 2,5 juta. Tetapi setelah mengikuti program RISE, pendapatan rata-rata mencapai Rp 3,5 juta. Saya bersyukur, ternyata kemampuan saya yang hanya seorang penjahit bisa saya kembangkan dengan membuka usaha es batu dan mempromosikan jahitan di media sosial meskipun kaki saya lemah (terbatas),” katanya.

NURHAYATI Daulay (63), seorang penyandang disabilitas penerima manfaat program RISE di Medan
NURHAYATI Daulay (63), seorang penyandang disabilitas penerima manfaat program RISE di Medan (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)

Kisah yang sama dialami Nurhayati Daulay (63). Penyandang disabilitas tuna daksa ini mengalami keterbatasan yang sama dengan Thamrin, polio dejak masih anak-anak. Sama halnya dengan Thamrin, Nurhayati juga melakoni bisnis jahitan sejak tahun 1989. “Kalau dihitung-hitung hingga tahun ini, saya sudah menjahit selama hampir 30 tahun,” kata Nurhayati kepada Tribun-Medan.com, Selasa (23/10/2018).

Dalam kurun waktu selama hampir 30 tahun, kata Nurhayati, dirinya menerima orderan pakaian jahitan dan juga memberikan kursus menjahit di rumahnya sekaligus tempat menjahitnya di Jl. Besar Deli Tua Gang Surya No.6 Medan. “Sekarang ada lima siswa yang belajar menjahit ke saya,” kata Nurhayati.

Sama halnya dengan Thamrin, Nurhayati merupakan alumnus pelatihan kewirausahaan pada program RICE Maybank bersama-sama dengan Thamrin. Bagi Nurhayati pribadi, pelatihan kewirausahaan yang diikutinya memberikan manfaat kepadanya, khususnya dari sisi motivasi. “Di tengah usia saya yang semakin lanjut usia apalagi saya juga tidak menikah, pelatihan tersebut terus memotivasi saya untuk terus  mandiri dan tidak menyerah pada keadaan. Dengan keterbatasan yang ada, pelatihan tersebut juga mengajarkan saya kiat-kiat berwirausaha seperti membuka usaha lain selain usaha jahitan, menyarankan untuk tetap memberikan kursus menjahit kepada warga sekitar, dan menyisihkan pendapatan untuk ditabung di bank.

“Syukurlah, ada peningkatan pendapatan yang saya peroleh setelah bergabung dalam program RICE ini. Sebelumnya rata-rata pendapatan Rp 1,1 juta. Tetapi sekarang bisa mencapai Rp 3,5 juta,” katanya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved