Bersama RISE, Melampaui Batas Kemampuan di Tengah Keterbatasan

Hidup di tengah keterbatasan tak membuat para penyandang disabilitas di Medan untuk menyerah pada keadaan dan keterbatasan.

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
THAMRIN Simarmata (depan, berkacamata) dan istrinya, Restiana Manullang (belakang) saat mengerjakan pesanan jahitan di rumah mereka, di kawasan Simalingkar B, Selasa (23/10/2018). Thamrin merupakan penyandang disabilitas penerima manfaat program RISE di Medan. 

Sepulang dari pelatihan, kata Thamrin, dia dan istrinya pun perlahan-lahan menerapkan apa yang didapat selama di pelatihan. Karena sudah memiliki lemari es, maka merekapun memutuskan untuk berjualan es batu. Mereka menjual seharga Rp 2.000 per bungkus dengan berat satu liter. Dalam sehari, Thamrin mampu menjual minimal 10 bungkus es batu. “Hasilnya dari es batu lumayan untuk membayar listrik rumah dan jajan anak-anak,” kata Thamrin, tersenyum.

Tak hanya menekuni usaha jual es batu. Restiana yang sejak awal sudah mempunyai akun facebook pun memanfaatkan media sosial tersebut untuk mempromosikan hasil jahitannya. “Istri saya belum ikut pelatihan tersebut. Tapi karena di sana (pelatihan), saya sudah diajari promosi lewat media sosial yang efektif, saya pun bilang ke istri biar sesekali promosi di media sosial,” lanjut Thamrin.

Hampir enam melakukan perubahan sesuai dengan apa yang didapatkan dalam pelatihan, Thamrin mengakui usahanya mengalami peningkatan. Pesanan jahitan bertambah. Thamrin dan istrinya yang biasanya sudah bisa istirahat menjelang maghrib, kini tak bisa lagi. “Paling cepat pukul sepuluh malam, khususnya kalau ada pesanan dalam jumlah lumayan besar,” katanya.

Semakin berkembangnya usaha pokok menjahit dan dibukanya usaha lain dengan menjual es batu, berdampak kepada pendapatan usaha menjahit Thamrin. “Rata-rata pendapatan per bulan sebelum mengikuti program RISE sekitar Rp 2,5 juta. Tetapi setelah mengikuti program RISE, pendapatan rata-rata mencapai Rp 3,5 juta. Saya bersyukur, ternyata kemampuan saya yang hanya seorang penjahit bisa saya kembangkan dengan membuka usaha es batu dan mempromosikan jahitan di media sosial meskipun kaki saya lemah (terbatas),” katanya.

NURHAYATI Daulay (63), seorang penyandang disabilitas penerima manfaat program RISE di Medan
NURHAYATI Daulay (63), seorang penyandang disabilitas penerima manfaat program RISE di Medan (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)

Kisah yang sama dialami Nurhayati Daulay (63). Penyandang disabilitas tuna daksa ini mengalami keterbatasan yang sama dengan Thamrin, polio dejak masih anak-anak. Sama halnya dengan Thamrin, Nurhayati juga melakoni bisnis jahitan sejak tahun 1989. “Kalau dihitung-hitung hingga tahun ini, saya sudah menjahit selama hampir 30 tahun,” kata Nurhayati kepada Tribun-Medan.com, Selasa (23/10/2018).

Dalam kurun waktu selama hampir 30 tahun, kata Nurhayati, dirinya menerima orderan pakaian jahitan dan juga memberikan kursus menjahit di rumahnya sekaligus tempat menjahitnya di Jl. Besar Deli Tua Gang Surya No.6 Medan. “Sekarang ada lima siswa yang belajar menjahit ke saya,” kata Nurhayati.

Sama halnya dengan Thamrin, Nurhayati merupakan alumnus pelatihan kewirausahaan pada program RICE Maybank bersama-sama dengan Thamrin. Bagi Nurhayati pribadi, pelatihan kewirausahaan yang diikutinya memberikan manfaat kepadanya, khususnya dari sisi motivasi. “Di tengah usia saya yang semakin lanjut usia apalagi saya juga tidak menikah, pelatihan tersebut terus memotivasi saya untuk terus  mandiri dan tidak menyerah pada keadaan. Dengan keterbatasan yang ada, pelatihan tersebut juga mengajarkan saya kiat-kiat berwirausaha seperti membuka usaha lain selain usaha jahitan, menyarankan untuk tetap memberikan kursus menjahit kepada warga sekitar, dan menyisihkan pendapatan untuk ditabung di bank.

“Syukurlah, ada peningkatan pendapatan yang saya peroleh setelah bergabung dalam program RICE ini. Sebelumnya rata-rata pendapatan Rp 1,1 juta. Tetapi sekarang bisa mencapai Rp 3,5 juta,” katanya.

Thamrin dan Nurhayati mengakui, meskipun mendapat manfaat tentang kewirausahaan dan motivasi, keduanya berpendapat program RICE perlu dimaksimalkan keberadaannya, khususnya dalam hal mentoring kepada para peserta pelatihan (wirausaha). “Setelah pelatihan, kami memang mendapat mentoring dari mentor-mentor yang memberikan pelatihan. Jadwalnya antara sekali dua minggu atau sekali sebulan. Tetapi mentoring itu sifatnya tidak tatap muka atau hanya melalui telepon. Kedepannya, kami berharap ada mentoring secara langsung atau tatap muka,” kata Nurhayati.

Thamrin menambahkan, dengan mentoring tatap muka ini, pihak Maybank Foundation sebagai pelaksana program RICE dapat melihat secara langsung sampai dimana keberhasilan para penyandang disabilitas dalam mengimplementasikan pelatihan yang sudah diperoleh. “Jika ditemukan kesulitan, kami berharap mentor dapat membimbing kami. Secara pribadi, saya melihat kelemahan saya adalah dalam hal pengembangan kewirausahaan. Saya berharap dengan mentoring tatap muka, pengembangan berwirausaha ini bisa saya dalami lebih lanjut lagi,” katanya.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved