Titik Temu Pancasila, Ulama dan Nahdlatul Ulama

KH Wahid Hasyim, KH Abdul Kahar Muzakkir, dan ulama lain memahami kemerdekaan yang diperjuangkan tak boleh berhenti pada kemenangan satu kelompok

Tayang:
Editor: iin sholihin
TRIBUN MEDAN
Dr Abrar M Dawud Faza NA 

Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan dimensi spiritual bangsa Indonesia. Kemanusiaan yang adil dan beradab mengingatkan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia. Persatuan Indonesia menegaskan arti kebersamaan di atas perbedaan. Musyawarah mencerminkan semangat dialog dan kebijaksanaan. Adapun keadilan sosial menjadi tujuan bersama yang harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa.

Dengan demikian, penerimaan terhadap Pancasila tidak berarti mengurangi komitmen keagamaan seseorang. Sebaliknya, Pancasila menyediakan ruang agar setiap warga negara dapat menjalankan keyakinannya secara damai dalam kerangka kehidupan bersama.

Peran Historis Nahdlatul Ulama

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Nahdlatul Ulama memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara identitas keagamaan dan komitmen kebangsaan.

Peran tersebut terlihat sejak masa awal kemerdekaan. Ketika berbagai konflik ideologis muncul, NU berupaya menjaga agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi perpecahan nasional. Sikap ini bukanlah pilihan pragmatis, melainkan cerminan dari pandangan keagamaan yang menempatkan persatuan sebagai nilai yang harus dijaga.

Pada saat yang sama, NU juga menunjukkan kemampuan untuk membaca realitas sosial secara bijaksana. Organisasi ini memahami bahwa kehidupan berbangsa tidak dapat dibangun hanya dengan pendekatan formalistik terhadap agama. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai agama dapat menghadirkan kemaslahatan nyata bagi masyarakat.

Karena itu, NU tidak pernah terjebak pada dikotomi antara Islam dan Indonesia. Bagi para kiai, keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan. Menjadi Muslim yang baik sekaligus menjadi warga negara yang baik adalah dua hal yang saling menguatkan. Pandangan inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi berbagai keputusan penting NU dalam perjalanan sejarah bangsa.

Salah satu momentum paling penting dalam sejarah hubungan NU dan Pancasila terjadi pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Ketika itu, Indonesia sedang berada dalam suasana politik yang penuh perdebatan mengenai posisi Pancasila dalam kehidupan organisasi kemasyarakatan. Banyak kalangan memandang persoalan tersebut dengan kecurigaan. Sebagian khawatir penerimaan terhadap Pancasila akan mengaburkan identitas keislaman.

Namun para ulama NU memilih menempuh jalan dialog dan pendalaman pemikiran. Mereka tidak terburu-buru mengambil sikap. Berbagai forum musyawarah digelar untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil memiliki landasan keagamaan yang kuat.

Hasilnya adalah sebuah keputusan yang hingga kini memiliki dampak besar bagi kehidupan kebangsaan Indonesia. NU menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Pancasila dipahami sebagai dasar kehidupan bernegara, sementara Islam tetap menjadi akidah dan pedoman hidup umat Islam.

Keputusan tersebut menunjukkan kedewasaan berpikir yang luar biasa. Para ulama tidak terjebak dalam pertentangan simbolik. Mereka melihat substansi persoalan dan menempatkan kepentingan bangsa dalam perspektif yang lebih luas.

Melalui keputusan itu, NU tidak hanya menyelesaikan perdebatan internal. Organisasi ini juga memberikan kontribusi besar terhadap penguatan konsensus kebangsaan Indonesia.

Pelajaran terbesar dari hubungan antara Pancasila, ulama, dan Nahdlatul Ulama adalah pentingnya kemampuan membangun titik temu. Bangsa yang majemuk tidak mungkin bertahan hanya dengan kemenangan satu pihak. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk mendengar, berdialog, dan mencari kesepakatan bersama.

Pancasila lahir dari semangat itu. Para ulama ikut melahirkan dan merawatnya melalui semangat yang sama. Sementara Nahdlatul Ulama, sepanjang hampir satu abad keberadaannya, telah menunjukkan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat berjalan seiring dengan komitmen kebangsaan.

Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum ini perlu menjadi kesempatan untuk mengingat kembali pesan yang diwariskan para pendiri bangsa: bahwa persatuan membutuhkan kebesaran hati, bahwa kebangsaan memerlukan kebijaksanaan, dan bahwa agama, ketika dipahami secara mendalam, justru dapat menjadi sumber utama bagi tumbuhnya kehidupan bersama yang damai, adil, dan bermartabat. (*)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved